Senin, 15 Agustus 2016

Arep Tekan Kapan Can Macan?

Sebuah judul artikel yg saya beri tanda tanya. Mau sampai kapan kita berjalan ditempat seperti ini? Untung saja kompetisi tahun ini tanpa degradasi. Saya salah satu supporter yg pesimis PPSM akan bertahan di kasta kedua sepakbola Indonesia jika tak segera dibenahi.

Lihat sekeliling kita, See... PSS yg akhir-akhir ini sering kita nyinyir dengan mantap mampu menjelma sebagai tim sepakbola yg diperhitungkan, PSIM dengan ambisinya berhasil membangkitkan kembali gairah sepakbola Kota Jogja, PSIS dengan semangat meraih kejayaan yg hilang perlahan mampu mendominasi Jawa Tengah.

Sedangkan PPSM?? Apa yg PPSM lakukan? Belum cukupkah dualisme tim yg terjadi beberapa tahun yg lalu? Belum cukupkah isu tim yg akan bubar karena masalah dana mencuat ke permukaan? Hey... kita mengalami penurunan drastis sejak promosi di kasta kedua ini. Hampir satu dekade kita mengarungi tiap musimnya dengan tertatih-tatih.

Sebenarnya apa yg salah disini? Cara mendukung supporter kah? Atau cara mengelola tim yg tidak profesional? Apa yg sebenarnya terjadi dalam tubuh PPSM? Apa sajakah yg perlu dibenahi di tim kebanggaan warga Magelang ini? Ahh... kenapa supporter yg selalu menjadi korban. Belum cukupkah perjuangan supporter selama ini? Tak bisakah kita bersorak sejenak saja atas kejayaan PPSM?

Oke cukup. Saya kurangi tanda tanya dalam artikel ini. Sebenarnya isi artikel ini adalah bentuk protes dan curahan hati seorang supporter biasa yg hanya bisa bernyanyi di atas tribun stadion. Sebagai seorang supporter PPSM, kita kembali berbicara tentang kesetiaan, tentang perjuangan, atau tentang kegelisahan. Belum pernah rasanya saya bermimpi tim kebanggaan yg saya dukung ini menjadi juara. Sejujurnya saya takut bermimpi sejauh itu, lha wong tiap musimnya aja pasti dibuat deg-degan kok. Jangan muluk-muluk dulu deh... PR yg harus dikerjakan bersama-sama adalah membangkitkan kembali gairah sepakbola di Magelang.

Dalam tulisan saya sebelum, sebelum, dan sebelumnya pun saya tulis popularitas tim ini menurun drastis. Oke, sekarang mengalami peningkatan. Namun peningkatan itu sangat kecil. Kita bukan berbicara tentang ciu atau arak yg dituangkan tipis-tipis, kita berbicara tentang tim sepakbola. 3000 orang belum cukup untuk mendongkrak tim yg syarat akan sejarah ini. (3000 saya ambil dari rata-rata penonton tahun ini yen ra luput).

Jika popularitas yg menjadi PR utama, kenapa pengurus PPSM seakan pasrah dengan keadaan? Lebih tepatnya pasrah dan sambat bab duit, hmm. Ibarat wong dagang, mau laku gimana orang promosi juga enggak. Tim ini selalu tanpa konsep yg jelas tiap musimnya. Lha gimana mau ada sponsor masuk wong tim aja ndak jelas mau gimana. Selama ini supporter lah yg menggetok tularkan ke masyarakat tentang PPSM.

Oke saya ambil contoh kecil saja musim ini. Manajemen mendatangkan kiper bintang Markus Horison, namun sayang seribu sayang manajemen tidak memanfaatkan pemain bintang itu sebagai nilai jual PPSM. Saya percaya kiper tua itu masih memiliki nilai jual yg tinggi. Mbok yo dibuatkan poster dengan background doi, atau buat video yg diunggah ke socmed dengan doi yg jd ikon. Sopo ngerti malah ono sponsor seng kepincut. Sebab markus itu bisa dijadikan ikon PPSM (sementara). Sebenarnya masih banyak lagi cara untuk mendongkrak popularitas tim ini, tapi mbuh kok koyone para pengurus ogah-ogahan.

Dalam tulisan ini saya bukan mau maido manajemen/pengurus, ini cuma ungkapan hati yg gelisah. Arep tekan kapan koyo ngene terus? Apa mau pindah homebase ke mbantul sisan seperti isu yg muncul ke permukaan kalo laga PPSM vs PSIM besok sabtu digelar di mbantul? Apaan.... hufh!