Priiiiit!!!!! 3-0 hasil akhir pertandingan perempat final leg pertama. Hasil yg membuat kami semua bangga karena bisa mengalahkan tim favorit juara Persiba Bantul di kompetisi Piala Indonesia musim lalu.
Keberhasilan itu sangatlah membuat kami bangga hingga pada akhirnya, dendam lama supporter Persiba dan PPSM pun kembali terjadi. Saling lempar dan saling pukul mewarnai pertandingan itu. Banyak terlihat kawan-kawan bermandikan darah di bawah derasnya hujan sore itu. Beberapa titik juga telah dikepung oleh supporter PPSM. Beruntung saat itu aparat keamanan bertindak cepat dan mampu mengamankan keadaan sekitar stadion. Akan tetapi ketegangan kembali terjadi di beberapa titik saat supporter persiba melakukan perjalanan pulang. Yaa.. Hari itu merupakan hari istimewa buat kami. Mampu mengalahkan tim rival dengan skor cukup telak merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami.
Masalah muncul saat akan melakoni laga tandang leg kedua di Bantul seminggu setelahnya. Ancaman2 supporter tuan rumah sebelum matchday pun tersiar di berbagai media sosial. Perasaan marah saat tim kita dihina2 oleh para supporter lawan harus kami tahan demi keamanan tim yg akan bertarung kala itu.
Terjadi pro kontra dalam kelompok kami untuk laga tandang ini. Beberapa anak mengusulkan utk tdk menghadiri laga krusial itu karena alasan keamanan. Akan tetapi jiwa2 Ultra tak akan pernah berhenti hingga titik darah penghabisan. Akhirnya pun kami memutuskan akan tetap hadir di laga yg krusial itu. Kami tak rela jika tim kami berjuang sendirian di kota rival. Kami juga harus memastikan tak ada intimidasi2 khusus kepada semua pahlawan kami hingga kembali lagi di kota tercinta ini dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Malam sebelum pertandingan perasaan gelisah mulai terasa. Disisi lain kami ingin sekali menghadiri pertandingan penting itu, tp disisi lain keamanan kami yg terancam. "Uwis, biasa ae.. Ra bakal dewe dikapak2e" kata seorang kawan kami. Meman benar, toh hubungan kami dengan ultras persiba (RUF) cukup baik jg. Banyak teman2 RUF yg kenal dekat dengan anak2 magelang. Yaa.. minimal mereka tak ikut2an lah jika nantinya ada chaos dengan supporter tuan rumah. Kami memutuskan utk berangkat menggunakan sepeda motor. Keberangkatan ini dibagi menjadi 2 kelompok.
Beberapa kawan telah berangkat dahulu menuju kota itu menggunakan sepeda motor. Namun demikian tak langsung menuju ke stadion. Tujuan mereka ke Terminal Giwangan untuk menitipkan kendaraan mereka yg bernomor polisi 'AA'. Kami memang mengantisipasi hal2 yg tidak terduga semacam perusakan kendaraan ber plat AA. Entah bagaimana mereka menuju stadion mengingat angkutan yg menuju ke stadion tak ada. Sama seperti kawan kami yg berangkat terlebih dahulu. Saya dan beberapa kawan yg ada kepentingan sendiri sblm kick off pun berangkat siang hari menggunakan sepeda motor juga. Akan tetapi kami langsung menuju ke stadion dimana tim kebanggaan kami bertanding.
Sesampainya di Stadion, sudah terlihat kawan2 lain telah menunggu di loket stadion. Tatapan2 sinis dan penuh dendam diarahkan ke kami oleh para supporter tuan rumah yg msh berada di luar stadion. "Ah prek su" kata Adith, kawan saya yg sudah tak sabar masuk ke stadion. Umpatan2 kami dapatkan di sekitaran pintu masuk stadion. Bahkan lemparan2 batu pun telah kami dapatkan di gerbang itu. Kamipun berdiskusi dengan panpel pertandingan agar bisa masuk ke tribun. Akhirnya pihak panpel pun mengijinkan kami masuk ke tribun Stadion Sultan Agung, markas Persiba Bantul. Saya tak tau apa yg ada di pikiran saya, semua risiko yg kami hadapi jika dipikir dengan akal sehat pun terlalu berbahaya. Saya mengkhawatirkan kawan2 cewek yg ikut di hari itu. Tapi semangat mereka sangat hebat. "Ayo mas ndang Mlebu" kata Nina 16 tahun. Dengan penuh semangat akhirnya kami memasuki tribun bagian selatan di stadion itu. Semua mata tertuju pada kami. Lagu2 umpatan selalu kami dengar dan diarahkan ke kami. "Magelang Asu, Magelang Bajingan" kata2 yg sangat familiar terdengar di stadion saat itu.
Dengan mantap akhirnya kami memasang banner kebanggaan kami dan berdiri utk mendampingi tim kebanggaan kami. Suasana semakin panas karena kami memasang banner yg menunjukkan identitas kami sbg supporter tim tamu.
Benar saja, tak sampai lagu pertama kami selesai nyanyikan tiba2, "PYAAARRR" sebuah botol kaca pecah di depan saya. Lemparan2 batu dan botol kaca kemudian diarahkan ke kami. Tak bisa dihitung berapa banyak batu yg mengarah ke kami. Terlihat satu kawan saya yg telah berlumuran darah. Supporter tuan rumah pun berhamburan dan berlarian ke arah kami yg membuat pertandingan pun dihentikan beberapa saat. Banyak dari kawan2 saya yg terkena pukulan dan berbagai intimidasi yg dilakukan oleh supporter tuan rumah saat kami berusaha menahan banner kebanggaan kami yg coba dirampas oleh supporter tuan rumah. Karena kalah jumlah, kamipun tak bisa berbuat banyak dan banner yg selalu menemani kami di laga away pun berhasil dirampas oleh mereka.
Setelah sekian lama, akhirnya pihak keamanan pun bertindak. Kami diamankan oleh pihak keamanan. Karena masih tak terima karena banner kami dirampas oleh supporter tuan rumah, kami tetap mencoba mengambil kembali banner itu bagaimanapun caranya. Akan tetapi supporter tuan rumah malah semakin menjadi2. Tak terhitung berapa kali pukulan yg saya terima krn ingin mengambil kembali banner kami tsb.
Dan karena suasana semakin panas, akhirnya kami dipaksa keluar stadion oleh pihak keamanan. Kami pun akhirnya di masukkan ke truk polisi utk dibawa ke terminal tempat dimana kendaraan kami titipkan. Saya dan kawan saya tetap tinggal karena kendaraan saya ada di sekitar stadion. Rasa marah dan kecewa krn tak bisa menyelamatkan banner yg dirampas oleh supporter tuan rumah pun tak bisa saya tutupi. Namun Aku bisa apa?? Mustahil kami yg hanya puluhan orang bisa menang melawan ribuan supporter tuan rumah. Alhasil tak lama kemudian kami mendapat kabar bahwa banner yg selalu menemani kami di laga away tersebut telah dibakar oleh supporter Persiba Bantul. Memang hanya sebuah banner, tp bagi kami itu bagian dari kami dan kami akan selalu jaga. Rasa sedih sangat kami rasakan ketika mendengar kabar itu. Akan tetapi rasa sedih dan kecewa itu hilang seketika saat mendengar tim kami LOLOS ke Semi Final Piala Indonesia utk pertama kalinya. Teriakan2 gembira kami teriakkan di terminal. "Terima Kasih Pahlawan" ucapku dalam hati. Kami sangat bangga dengan kemenangan ini. Perasaan lega juga kami rasakan ketika mendapat kabar pahlawan2 kami selamat dan sedang perjalanan pulang.
Biarlah banner itu sebagai saksi betapa kami sangat mencintai tim kami. Ceritakan pada banner2 lainnya bahwa lambang yg terpampang padamu itu adalah yg terbaik.
Terima kasih kawan2 semua telah melalui satu hari hebat dan penuh cerita. MADNESS!!
Sabtu, 28 September 2013
Coretan 'Emang Gue Pikirin?? (Tapi Aku Peduli)'
Sedikit coretan mengenai dunia sepak bola di kota kecil ini. Disini saya hanya fokus mengamati ke dunia supporternya saja. Agar tak melebar kemana2 saya akan membatasi hanya ke satu kelompok atau organisasi supporter terbesar di wilayah Kedu ini. Saya menulis karena saya peduli. Semua transparan, gk ada yg perlu ditutup-tutupi, toh ini demi kebaikan kita semua dan kemajuan PPSM Magelang.
Sebenarnya bukan urusan saya untuk mengomentari atau bahkan mengkritik organisasi supporter ini, mengingat saya juga bukan anggota organisasi tersebut. Tapi jika itu menyangkut PPSM Magelang, tim yg amat saya puja-puja itu, saya rasa ini akan mjd urusan saya juga.
Simo Lodro Magelang, telah kita ketahui bersama kelompok supporter PPSM Magelang ini merupakan kelompok supporter terbesar di daratan kedu. Tak heran jika banyak orang ingin 'ngopeni' kelompok supporter ini, maklum saja di dunia seperti bisa menjadi lahan basah untuk para pencari keuntungan. Mulai dari warga sipil, para elite, dan bahkan aparat keamanan. Tak jarang juga kelompok supporter ini dijadikan alat politik suatu parpol tertentu. Miris memang, tujuan utama supporter adalah mendukung tim kebanggaannya secara total bukan untuk alat kampanye atau bahkan untuk lahan mencari uang.
Dua musim lalu, sangatlah nampak bagaimana bobroknya kelompok supporter ini, memang tak ada peraturan yg tertulis mengenai keharusan tiap anggota datang ke tiap PPSM berlaga atau aturan tentang bagaimana seharusnya kita di tribun saat mendukung tim. Tapi jika dilihat dan ditelaah secara jernih, saat para supporter tawuran sendiri di tribun, menyanyikan lagu2 'rasis' saat mendukung tim, itu adalah indikasi2 bahwa roda2 organisasi ini tak berjalan sebagaimana mestinya.
Pengangkatan 'Pandawa Lima' dan penurunan sepihak dirijen aktif saat itupun memunculkan kontroversi2 di kalangan supporter. Tercium adanya kepentingan2 terselubung dan konspirasi yg ada di tubuh organisasi ini. Belum lagi soal kebocoran tiket pertandingan yg tercium adanya campur tangan para pengurus organisasi atau kelompok supporter ini. Atau bahkan lobi-lobi pengurus saat terjadi dualisme tim yg mengakibatkan terpecahnya pandangan para supporter. Akibatnya tribun sepi karena ada pengaruh dari 'pengurus' organisasi tersebut.
Ketidakpedulian pengurus tehadap kelompok ini makin menjadi. Setelah diberhentikannya dirijen aktif saat itu, kelompok ini nampak berantakan. Tak ada kreasi (saat supporter2 lain di Indonesia sangat kreatif), tribun dengan dirijen yg gonta-ganti, tawuran sesama supporter dsb.
Sebagai pengurus, seharusnya memberikan contoh yg baik kepada anak buahnya atau para anggotanya. Saya tak melihat satu presiden pun hadir saat pertandingan2 away ketika tim ini sedang terjatuh. Saya hanya melihat tindakan 'penganiayaan' para pengurus kelompok supporter ini terhadap kelompok lain sesama pendukung PPSM yakni Ultras PPSM satu tahun silam.
Jika ditelaah lebih jauh lagi, kelompok yg seharusnya bisa membuat perubahan yg baik ini, skrg hanya dimanfaatkan oleh para pengurus2 utk mencari keuntungan atau mungkin hanya untuk popularitas semata. Tak ada jiwa supporter yg tertanam. Kewajiban mendukung tim dengan tulus dan penuh cinta itu hanya isapan belaka.
Saya khawatir, jika diteruskan seperti ini maka kedepan persepakbolaan di kota ini pun akan ikut hancur pula.
Rasanya tak etis jika hanya mengkritisi saja, menurut saya ada beberapa options atai solusi utk permasalahan ini. Saya rasa masih banyak anggota2 simolodro yg berkompeten utk memperbaiki organisasi yg amburadul ini, terutama para pemuda-pemudi. Sudah cukup orang2 'tua' bermain. Sekarang waktunya anak2 muda yg berkarya. Masih banyak anak2 muda simo lodro yg peduli dengan kemajuan supporter di kota ini. Tentunya semua utk tim kebangaan kita semua. Jika para supporter atraktif dan kreatif otomatis tribun selalu penuh terisi dan otomatis sponsor akan masuk, kemudian tak akan ada lagi alasan tim kekurangan dana. Kuatkan dahulu supporter baru kita melangkah ke tim. Itu analogi sederhananya.
Terima kasih teman-teman atas waktunya membaca coretan sederhana ini. Sekali lagi, saya mengkritik karena saya peduli.
Sebenarnya bukan urusan saya untuk mengomentari atau bahkan mengkritik organisasi supporter ini, mengingat saya juga bukan anggota organisasi tersebut. Tapi jika itu menyangkut PPSM Magelang, tim yg amat saya puja-puja itu, saya rasa ini akan mjd urusan saya juga.
Simo Lodro Magelang, telah kita ketahui bersama kelompok supporter PPSM Magelang ini merupakan kelompok supporter terbesar di daratan kedu. Tak heran jika banyak orang ingin 'ngopeni' kelompok supporter ini, maklum saja di dunia seperti bisa menjadi lahan basah untuk para pencari keuntungan. Mulai dari warga sipil, para elite, dan bahkan aparat keamanan. Tak jarang juga kelompok supporter ini dijadikan alat politik suatu parpol tertentu. Miris memang, tujuan utama supporter adalah mendukung tim kebanggaannya secara total bukan untuk alat kampanye atau bahkan untuk lahan mencari uang.
Dua musim lalu, sangatlah nampak bagaimana bobroknya kelompok supporter ini, memang tak ada peraturan yg tertulis mengenai keharusan tiap anggota datang ke tiap PPSM berlaga atau aturan tentang bagaimana seharusnya kita di tribun saat mendukung tim. Tapi jika dilihat dan ditelaah secara jernih, saat para supporter tawuran sendiri di tribun, menyanyikan lagu2 'rasis' saat mendukung tim, itu adalah indikasi2 bahwa roda2 organisasi ini tak berjalan sebagaimana mestinya.
Pengangkatan 'Pandawa Lima' dan penurunan sepihak dirijen aktif saat itupun memunculkan kontroversi2 di kalangan supporter. Tercium adanya kepentingan2 terselubung dan konspirasi yg ada di tubuh organisasi ini. Belum lagi soal kebocoran tiket pertandingan yg tercium adanya campur tangan para pengurus organisasi atau kelompok supporter ini. Atau bahkan lobi-lobi pengurus saat terjadi dualisme tim yg mengakibatkan terpecahnya pandangan para supporter. Akibatnya tribun sepi karena ada pengaruh dari 'pengurus' organisasi tersebut.
Ketidakpedulian pengurus tehadap kelompok ini makin menjadi. Setelah diberhentikannya dirijen aktif saat itu, kelompok ini nampak berantakan. Tak ada kreasi (saat supporter2 lain di Indonesia sangat kreatif), tribun dengan dirijen yg gonta-ganti, tawuran sesama supporter dsb.
Sebagai pengurus, seharusnya memberikan contoh yg baik kepada anak buahnya atau para anggotanya. Saya tak melihat satu presiden pun hadir saat pertandingan2 away ketika tim ini sedang terjatuh. Saya hanya melihat tindakan 'penganiayaan' para pengurus kelompok supporter ini terhadap kelompok lain sesama pendukung PPSM yakni Ultras PPSM satu tahun silam.
Jika ditelaah lebih jauh lagi, kelompok yg seharusnya bisa membuat perubahan yg baik ini, skrg hanya dimanfaatkan oleh para pengurus2 utk mencari keuntungan atau mungkin hanya untuk popularitas semata. Tak ada jiwa supporter yg tertanam. Kewajiban mendukung tim dengan tulus dan penuh cinta itu hanya isapan belaka.
Saya khawatir, jika diteruskan seperti ini maka kedepan persepakbolaan di kota ini pun akan ikut hancur pula.
Rasanya tak etis jika hanya mengkritisi saja, menurut saya ada beberapa options atai solusi utk permasalahan ini. Saya rasa masih banyak anggota2 simolodro yg berkompeten utk memperbaiki organisasi yg amburadul ini, terutama para pemuda-pemudi. Sudah cukup orang2 'tua' bermain. Sekarang waktunya anak2 muda yg berkarya. Masih banyak anak2 muda simo lodro yg peduli dengan kemajuan supporter di kota ini. Tentunya semua utk tim kebangaan kita semua. Jika para supporter atraktif dan kreatif otomatis tribun selalu penuh terisi dan otomatis sponsor akan masuk, kemudian tak akan ada lagi alasan tim kekurangan dana. Kuatkan dahulu supporter baru kita melangkah ke tim. Itu analogi sederhananya.
Terima kasih teman-teman atas waktunya membaca coretan sederhana ini. Sekali lagi, saya mengkritik karena saya peduli.
![]() |
| Penurunan sepihak dirijen aktif saat itupun menimbukan kontroversi dan berbagai pertanyaan di kalangan supporter. Tercium adanya kepentingan terselubung pengurus atas isu penurunan tersebut. |
Sabtu, 21 September 2013
Coretan 'Madya dan Hiruk Pikuknya'
Musim per musim telah berlalu, namun tim kebanggaan kami tak kunjung promosi ke kasta tertinggi liga di negeri ini. Saat itu stadion tua telah ditinggalkan, para supporter berbondong-bondong datang ke stadion yg baru dibangun oleh pemerintah kota. Walau hingga saat aku tulis ini pembangunan stadion belum selesai krn ada indikasi korupsi, akan tetapi cukup megah dan besar stadion milik pemerintah kota itu. Yap! Stadion Madya cukup membuat kami bangga krn kami tak lagi di ejek oleh supporter2 lain krn hanya menggunakan 'sawah' saat bertanding. Masyarakat pun tambah antusias datang ke stadion baru itu. Kala itupun persiapan tim kami sangat matang. Dengan Striker Kurniawan DY dan kiper macam Dhika Bayangkara, sera pemain2 seperti Tinton, Agung, Seton, tim kamipun sangat diunggulkan utk promosi ke kasta tertinggi liga Indonesia.
Kelompok supporter Simo lodro berada di tribun timur (tengah) stadion itu dan kelompok kecil seperti 'Ultras' berada di sampingnya.
Saat pertama kali masuk ke stadion itu ada perasaan bangga pada diri ini, "Akhirnya kami mempunyai istana yg megah" ucapku dalam hati. Sempat aku bingung akan berdiri dimana aku ini. Apakah aku akan ikut ke (tengah) atau menyendiri. Akhirnya aku dan 'kelompok kecilku' menetapkan utk berada bersampingan dgn kelompok supporter terbesar di kota ini.
Aku terbiasa mandiri dgn teman2 "Till Die" (Baca Coretan sebelum ini). Bahkan utk pertandingan2 tandang aku juga sering berangkat sendirian atau bersama satu kawanku jika kelompok kami tak berangkat.
Stadion yg hebat dengan atmosfer di tribun yg jauh lebih terasa. Nampak dirijen Simo Lodro sangat bersemangat memimpin pasukannya. "Hebat" kataku saat itu, pertandingan pertamaku di stadion baru sangat hebat.
Saat itu di awal kompetisi tim kami melawan salah satu tim dari jawa barat. Pertandingan yg berkesudahan sama kuat itupun merupakan kerugian besar bagi tim kami, mengingat itu laga kandang pertama di kompetisi divisi utama. Akan tetapi supporter masih percaya jika kedepan akan lbh baik lagi, iya.. Percaya dan akan selalu percaya. Pertandingan usai, dan semua orang pun mulai keluar meninggalkan stadion, kecuali aku. Ntah karena dorongan apa aku gk tau, aku selalu keluar paling terakhir jika bermain di kandang. Rasanya berat jika harus meninggalkan tempat paling istimewa dalam hidupku ini. Stadion Madya.. Istanaku, dan tempat ibadah kita semua pecinta Macan Tidar. Hingga berjalannya waktu banyak keluarga baru yg aku temukan disini. Banyak juga permasalahan2 yg aku tahu disini. Tapi biarlah.. Para supporter telah nyaman berada di tribun baru ini. Tribun dimana akan ada cerita baru yg akan dimulai.
Kelompok supporter Simo lodro berada di tribun timur (tengah) stadion itu dan kelompok kecil seperti 'Ultras' berada di sampingnya.
Saat pertama kali masuk ke stadion itu ada perasaan bangga pada diri ini, "Akhirnya kami mempunyai istana yg megah" ucapku dalam hati. Sempat aku bingung akan berdiri dimana aku ini. Apakah aku akan ikut ke (tengah) atau menyendiri. Akhirnya aku dan 'kelompok kecilku' menetapkan utk berada bersampingan dgn kelompok supporter terbesar di kota ini.
Aku terbiasa mandiri dgn teman2 "Till Die" (Baca Coretan sebelum ini). Bahkan utk pertandingan2 tandang aku juga sering berangkat sendirian atau bersama satu kawanku jika kelompok kami tak berangkat.
Stadion yg hebat dengan atmosfer di tribun yg jauh lebih terasa. Nampak dirijen Simo Lodro sangat bersemangat memimpin pasukannya. "Hebat" kataku saat itu, pertandingan pertamaku di stadion baru sangat hebat.
Saat itu di awal kompetisi tim kami melawan salah satu tim dari jawa barat. Pertandingan yg berkesudahan sama kuat itupun merupakan kerugian besar bagi tim kami, mengingat itu laga kandang pertama di kompetisi divisi utama. Akan tetapi supporter masih percaya jika kedepan akan lbh baik lagi, iya.. Percaya dan akan selalu percaya. Pertandingan usai, dan semua orang pun mulai keluar meninggalkan stadion, kecuali aku. Ntah karena dorongan apa aku gk tau, aku selalu keluar paling terakhir jika bermain di kandang. Rasanya berat jika harus meninggalkan tempat paling istimewa dalam hidupku ini. Stadion Madya.. Istanaku, dan tempat ibadah kita semua pecinta Macan Tidar. Hingga berjalannya waktu banyak keluarga baru yg aku temukan disini. Banyak juga permasalahan2 yg aku tahu disini. Tapi biarlah.. Para supporter telah nyaman berada di tribun baru ini. Tribun dimana akan ada cerita baru yg akan dimulai.
![]() |
| Kini tak akan ada lagi yang berkata "Stadion Sawah" Kami juga juga mempunyai Istana seperti kalian. Di Istana baru itu, sebuah cerita baru telah dimulai |
Jumat, 20 September 2013
Coretan 'Tandang Pertamaku'
Laga
tandang yg menantang!! Banyak cerita, banyak kenangan, dan banyak cinta.
Saat itu aku masih duduk di bangku SMA, ajakan kawan utk mengikuti laga
tandang pun aku pikir2 ulang. Nanti jangan2 tawuran, nanti jangan2
kalah, nanti jangan2 inilah itulah.
Kelompok kami memutuskan utk berangkat mandiri utk menemani tim kebanggaan kami bertanding di kota orang. Segala risiko kita tanggung bersama. Akhirnya aku memutuskan utk mengikuti laga tandang ini. Biaya yg cukup mahal utk seorang pelajar tak membuat tekad ini berkurang. Dengan segala upaya akhirnya aku mampu utk membayar biaya transportasi itu.
Sebelum Matchday ada perasaan tegang, tidak sabar, dan antusias utk laga tandang pertamaku ini. Orang bilang aku terkena Pre- Match Syndrome. Sindrom dimana seluruh jiwa dan raga ini bergetar dan ingin cepat sampai ke stadion utk meluapkan segala perasaan.
Pagi sekali aku bangun dan menyiapkan segalanya utk laga ini. Dengan restu dari orang tua aku melangkah pasti ke basecamp dimana kelompok kita berkumpul. Ternyata aku kepagian datang ke sana, tak ada seorangpun terlihat. Terdengar kawanku memanggil2 aku, haha dia baru bangun dari tidurnya. Ternyata aku terlalu bersemangat utk melakoni laga tandang pertamaku ini. Sambil menunggu rekan2 yg lain datang, sebotol Vodka pun dituangkan kawanku utk menambah semangat di pagi yg cerah itu. Kami minum bukan utk mabuk2an, hanya utk menambah semangat utk laga tandang ini. Tak lama kemudian akhirnya satu per satu kawan bermunculan. Rasa senang saat itu berkumpul dengan kawan2 senasib dan seperjuangan. Akhirnya kamipun berangkat meninggalkan basecamp kami. Dengan mobil sewaan kami mantap menuju kota orang yg supporternya terkenal suka bikin ulah itu. Dalam perjalanan, canda tawa, dan cerita meramaikan suasana mobil yg cukup desak2an itu. Perasaan ingin cepat sampai selalu menghantuiku. "Iseh sue po?" Pertanyaan yg selalu terdengar di mobil. Perjalanan jauh yg paling menggembirakan yg pernah saya lalui saat itu.
Setelah beberapa lama akhirnya kami memasuki kota yg cukup panas dengan pemandangan lautnya yg mempesona. Terlihat supporter tuan rumah telah menunggu kami di batas wilayah kota. Kamipun disambut bak saudara. Dikawal hingga stadion yg cukup jauh dari batas wilayah kota itu.
Sesampainya di area stadion nyanyian2 selamat datang menghapus semua anggapan bahwa supporter di kota itu suka bikin olah. Tak beberapa lama kamipun masuk ke stadion. Tribun yg tak jauh beda dengan tribun di stadion kami membuat kami cukup terbiasa, hanya saja disini sangat panas. Semua peralatan kami siapkan. Satu cegukan alkohol membuat suasana stadion semakin panas.
Tim kebanggaan kami memasuki lapangan untuk melakukan pemanasan. Tepuk tangan dan nyanyian2 semangat kami berikan walau kami sangat kelelahan. Tak tau perasaan apa yg membuat raga ini begitu semangatnya, yg jelas kami datang hanya utk tim kami.
Tepat pukuk 15.30 dan kick off pun telah dilakukan. Nyanyian2 semangat selalu kami nyanyikan dengan penuh semangat pula. Waktu pun akan usai dan skor masih sama kuat 0-0. Akan tetapi tim tuan rumah mampu membuat kami lesu dan tertegun, GOLL!! 1-0 utk tim tuan rumah. Perasaan sedih dan kecewa seketika kami rasakan. Dan tak brapa lama kemudian GOL!! Lagi2 tim tuan rumah mampu memperlebar jarak dengan tim kami. Hasil akhir 2-0 utk kemenangan tim tuan rumah membuat kami pun cukup sedih. Akan tetapi kami tak boleh seperti ini, kami harus selalu semangat. Nyanyian2 terima kasih kepada tim kebanggaan kami tetap kami nyanyikan sebagai apresiasi kepada para pahlawan kami yg telah berjuan membawa nama kota kami. "Ah biarlah, nanti kita balas di kandang" kataku saat itu. Setelah bertegur sapa dengan supporter tim tuan rumah, kami pun meninggalkan stadion.
Rasa lelah, capek membuat perjalanan pulang kami terasa lama, apalagi ditambah tersesat jauh gk tau dimana..hahaha. Canda dan gurauan tetap menemani kami di perjalanan pulang ke kota kami.
Sungguh laga tandang pertama yg berkean buat aku. Rasa cinta ke tim ini pun semakin bertambah besar ntah apa penyebabnya. Bagiku engkaulah kebanggaan yg sebenarnya.
Kelompok kami memutuskan utk berangkat mandiri utk menemani tim kebanggaan kami bertanding di kota orang. Segala risiko kita tanggung bersama. Akhirnya aku memutuskan utk mengikuti laga tandang ini. Biaya yg cukup mahal utk seorang pelajar tak membuat tekad ini berkurang. Dengan segala upaya akhirnya aku mampu utk membayar biaya transportasi itu.
Sebelum Matchday ada perasaan tegang, tidak sabar, dan antusias utk laga tandang pertamaku ini. Orang bilang aku terkena Pre- Match Syndrome. Sindrom dimana seluruh jiwa dan raga ini bergetar dan ingin cepat sampai ke stadion utk meluapkan segala perasaan.
Pagi sekali aku bangun dan menyiapkan segalanya utk laga ini. Dengan restu dari orang tua aku melangkah pasti ke basecamp dimana kelompok kita berkumpul. Ternyata aku kepagian datang ke sana, tak ada seorangpun terlihat. Terdengar kawanku memanggil2 aku, haha dia baru bangun dari tidurnya. Ternyata aku terlalu bersemangat utk melakoni laga tandang pertamaku ini. Sambil menunggu rekan2 yg lain datang, sebotol Vodka pun dituangkan kawanku utk menambah semangat di pagi yg cerah itu. Kami minum bukan utk mabuk2an, hanya utk menambah semangat utk laga tandang ini. Tak lama kemudian akhirnya satu per satu kawan bermunculan. Rasa senang saat itu berkumpul dengan kawan2 senasib dan seperjuangan. Akhirnya kamipun berangkat meninggalkan basecamp kami. Dengan mobil sewaan kami mantap menuju kota orang yg supporternya terkenal suka bikin ulah itu. Dalam perjalanan, canda tawa, dan cerita meramaikan suasana mobil yg cukup desak2an itu. Perasaan ingin cepat sampai selalu menghantuiku. "Iseh sue po?" Pertanyaan yg selalu terdengar di mobil. Perjalanan jauh yg paling menggembirakan yg pernah saya lalui saat itu.
Setelah beberapa lama akhirnya kami memasuki kota yg cukup panas dengan pemandangan lautnya yg mempesona. Terlihat supporter tuan rumah telah menunggu kami di batas wilayah kota. Kamipun disambut bak saudara. Dikawal hingga stadion yg cukup jauh dari batas wilayah kota itu.
Sesampainya di area stadion nyanyian2 selamat datang menghapus semua anggapan bahwa supporter di kota itu suka bikin olah. Tak beberapa lama kamipun masuk ke stadion. Tribun yg tak jauh beda dengan tribun di stadion kami membuat kami cukup terbiasa, hanya saja disini sangat panas. Semua peralatan kami siapkan. Satu cegukan alkohol membuat suasana stadion semakin panas.
Tim kebanggaan kami memasuki lapangan untuk melakukan pemanasan. Tepuk tangan dan nyanyian2 semangat kami berikan walau kami sangat kelelahan. Tak tau perasaan apa yg membuat raga ini begitu semangatnya, yg jelas kami datang hanya utk tim kami.
Tepat pukuk 15.30 dan kick off pun telah dilakukan. Nyanyian2 semangat selalu kami nyanyikan dengan penuh semangat pula. Waktu pun akan usai dan skor masih sama kuat 0-0. Akan tetapi tim tuan rumah mampu membuat kami lesu dan tertegun, GOLL!! 1-0 utk tim tuan rumah. Perasaan sedih dan kecewa seketika kami rasakan. Dan tak brapa lama kemudian GOL!! Lagi2 tim tuan rumah mampu memperlebar jarak dengan tim kami. Hasil akhir 2-0 utk kemenangan tim tuan rumah membuat kami pun cukup sedih. Akan tetapi kami tak boleh seperti ini, kami harus selalu semangat. Nyanyian2 terima kasih kepada tim kebanggaan kami tetap kami nyanyikan sebagai apresiasi kepada para pahlawan kami yg telah berjuan membawa nama kota kami. "Ah biarlah, nanti kita balas di kandang" kataku saat itu. Setelah bertegur sapa dengan supporter tim tuan rumah, kami pun meninggalkan stadion.
Rasa lelah, capek membuat perjalanan pulang kami terasa lama, apalagi ditambah tersesat jauh gk tau dimana..hahaha. Canda dan gurauan tetap menemani kami di perjalanan pulang ke kota kami.
Sungguh laga tandang pertama yg berkean buat aku. Rasa cinta ke tim ini pun semakin bertambah besar ntah apa penyebabnya. Bagiku engkaulah kebanggaan yg sebenarnya.
![]() |
| Terima Kasih pahlawan-pahlawanku..Terima Kasih. Aku akan selalu mendukungmu hingga mata ini tak mampu lagi untuk melihat |
Coretan 'Di Tribun Itu #2'
Untuk
sebagian orang, datang ke Stadion Abu Bakrin saat itu sangatlah anti.
Stadion jelek, tribun dari tanah, wah pokoknya anti kemapanan banget itu
stadion. Tapi buat aku bisa menghadiri laga PPSM yg berjuang di divisi
2a hingga ke divisi utama merupakan 'kesenangan' yg tak ternilai
harganya. Aneh memang jika bicara sepak bola lokal di kota yg
notabenenya bukan kota bola ini. Paradigma sepak bola
lokal itu jelek, supporternya urakan masih kental di kota ini. Hal itu
bisa dilihat dari kepadatan stadion bila dibandingkan dengan warga
Magelang sendiri.
Di tribun timur yg tua itu hanya berisikan para pecinta2 bola yg benar2 tulus mendukung tim kebanggaannya. Aku lupa apa nama suppoternya saat itu, ntah Simo Lodro atau Laskar Magelang ataupun Magelang Mania aku tak ingat benar. Yg jelas dengan atribut warna oranye semua berkumpul di tribun itu.
Seiring dengan kemajuan sepak bola lokal dan promosinya PPSM ke Divisi utama, tribun tua itu pun tak mampu lagi menampung penonton dan supporter yg semakin hari semakin bertambah. Tribun tua itu akhirnya ditinggalkan, dan semua pindah berbondong2 ke tribun tanah yg lumayan lebar di sebelah utara. Saat itu memang aku sudah duduk di bangku SMA. Tadinya aku ingin ikut pindah, tapi aku merasa tak nyaman jika harus berdesak2an dengan orang2 yg tiba2 mengaku menjadi supporter ketika PPSM promosi ke divisi utama. Benar, orang2 lama yg dulu selalu setia mendukung dan menemani PPSM berlaga harus kalah dan terpinggirkan oleh orang2 baru yg mendadak sok jagoan di tribun 'baru' itu.
Ah sudahlah dengan orang2 itu, yg jelas aku tetap setia utk tim yg aku banggakan ini. Hingga pada akhirnya aku ditemukan dengan suatu kelompok kecil yg 'saat itu' benar2 loyal untuk tim. Yap "Till Die" nama kelompok kecil yg beranggotakan mayoritas warga desa sebelah dimana aku sering nongkrong di desa itu pula. Dan kami pun tetap di tribun itu. Dan kelak di kelompok itu pun pertama kalinya aku mengikuti laga tandang.
Di tribun timur yg tua itu hanya berisikan para pecinta2 bola yg benar2 tulus mendukung tim kebanggaannya. Aku lupa apa nama suppoternya saat itu, ntah Simo Lodro atau Laskar Magelang ataupun Magelang Mania aku tak ingat benar. Yg jelas dengan atribut warna oranye semua berkumpul di tribun itu.
Seiring dengan kemajuan sepak bola lokal dan promosinya PPSM ke Divisi utama, tribun tua itu pun tak mampu lagi menampung penonton dan supporter yg semakin hari semakin bertambah. Tribun tua itu akhirnya ditinggalkan, dan semua pindah berbondong2 ke tribun tanah yg lumayan lebar di sebelah utara. Saat itu memang aku sudah duduk di bangku SMA. Tadinya aku ingin ikut pindah, tapi aku merasa tak nyaman jika harus berdesak2an dengan orang2 yg tiba2 mengaku menjadi supporter ketika PPSM promosi ke divisi utama. Benar, orang2 lama yg dulu selalu setia mendukung dan menemani PPSM berlaga harus kalah dan terpinggirkan oleh orang2 baru yg mendadak sok jagoan di tribun 'baru' itu.
Ah sudahlah dengan orang2 itu, yg jelas aku tetap setia utk tim yg aku banggakan ini. Hingga pada akhirnya aku ditemukan dengan suatu kelompok kecil yg 'saat itu' benar2 loyal untuk tim. Yap "Till Die" nama kelompok kecil yg beranggotakan mayoritas warga desa sebelah dimana aku sering nongkrong di desa itu pula. Dan kami pun tetap di tribun itu. Dan kelak di kelompok itu pun pertama kalinya aku mengikuti laga tandang.
Kamis, 19 September 2013
Coretan 'Di Tribun Itu'
Iya!!
Ditribun itu aku lahir menjadi supporter, tribun yg hanya beberapa saf
saja, tribun kecil sederhana di stadion yg tua. Tribun timur Stadion Abu
Bakrin aku berdiri pertama mendukung dan bernyanyi utk sebuah tim kecil
di kota yg kecil, PPSM Magelang!! Dengan latar belakang keluargaku yg
suka bola klop sudah, tak sekalipun aku melewatkan laga kandang ketika
aku masih duduk di bangku SMP. Daya pikirku kala itu belum cukup untuk sekedar berpikir ikut ke laga2 tandang yg orang bilang sangat menantang itu.
Di tribun itu aku merasakan sensasi yg luar biasa, melihat mas2 yg bersemangat bernyanyi, berjingkrak, bahkan berkelahi. Hehe
Tiap tengah atau akhir pekan aku selalu berada di stadion tua itu
dengan kawan sekelasku. Kami hanya duduk di belakang pagar menikmati
pertandingan dan melihat para mas2 supporter yg semangat. Ada perasaan
semacam ingin seperti mereka yg sangat antusias bernyanyi, ada perasaan
ingin gila2an juga sama seperti mereka.
![]() |
| Tribun pertama dimana aku berdiri dan bernyanyi untuk sebuah tim medioker yang sangat aku cintai dan banggakan. Disitulah awal cerita ini dimulai. |
Dengan bermodal uang yg aku tabung dari uang saku sekolahku hanya utk membeli tiket dan biaya transport, aku dan kawanku ini pun lama-kelamaan ikut jg dalam euforia para mas2 supporter. Tak ada lagi rasa malu atau canggung. Semua cair ketika kami berdiri di tribun itu, semua seperti saudara. Bahkan aku tak kenal dengan siapa aku meminta segelas air mineral karena rasa haus akibat bernyanyi terlalu semangat. Di tribun itulah aku lahir menjadi seorang supporter sepakbola. Seorang supporter tim medioker yg sangat aku banggakan.
Langganan:
Postingan (Atom)




