Senin, 27 Oktober 2014

Sepenggal Kisah Divisi Utama Hingga Sepak Bola Gajah

Divisi utama.. Iya, Divisi Utama telah sampai ke babak Semi Final. Martapura FC, PBFC, PSS, dan PSIS keluar sebagai semifinalis yg akan digelar di SUGBK November nanti. Berbagai cerita tersaji di kasta kedua sepak bola Indonesia ini. Mulai dari isu mundurnya Persipasi hanya beberapa saat sebelum liga dimulai, hingga Sepak bola Gajah PSS vs PSIS. Semua tersaji di sini, kita bisa melihat bagaimana mudahnya klub-klub melakukan aksi WO (tak hadir di pertandingan) dgn alasan klasik, 'biaya'. Kita juga bisa melihat berbagai macam sanksi yg kontroversial dari Komdis. Yang lebih mengerikan adalah berbagai kerusuhan yg mewarnai sebuah pertandingan dan tentu saja hilangnya dua nyawa supporter PSCS dan Persis Solo beberapa waktu lalu. Sebenarnya aroma tak sedap telah tercium di awal-awal liga bergulir. Mulai dari pengaturan skor pertandingan hingga ke paketan Promosi ke ISL. Namun demikian, tak pernah ada bukti yg cukup kuat untuk mengamini berbagai macam kejanggalan di divisi utama ini. Iya, bagai mencium bau bangkai namun tak tau letak bangkai tersebut. Namun bangkai yg tersembunyi tersebut nampaknya akan terungkap. Benar, ketika kita di pertontonkan lelucon sepak bola gajah ala PSS dan PSIS. Pertandingan yg berkesudahan 3-2 untuk PSS tersebut disinyalir mencederai sportifitas olahraga. Bagaimana bisa lima gol yg tercipta di pertandingan tersebut semua berasal dari aksi bunuh diri kedua kesebelasan, dan anehnya gol-gol tersebut tercipta beberapa menit sebelum laga usai. Dalam video yg sempat diunggah di youtube semalam (kini private), terlihat jelas konyolnya pertandingan sore itu. Striker lawan menjadi bek lawan, bek lawan menjadi striker lawan.. Haha susah kan memahami kalimat barusan, sama seperti susahnya memahami pertandingan yg di gelar di komplek AAU tersebut. Dengan alasan apapun, tak bisa dibenarkan aksi 5 gol bunuh diri tersebut. Usut punya usut, kedua tim tersebut memang sengaja mengalah agar tak bertemu tim penuh kontroversial, PBFC.
Kenapa kedua tim ini menghindar dari PBFC? Sekuat apa mereka hingga tim sekelas PSS dan PSIS ogah berhadapan dengannya di laga Semi Final. Ah ntahlah.. Sepakbola negeri ini memang begitu, ada saja permasalahan tiap bulannya. Kita tunggu saja sanksi seperti apa yg akan diberikan PSSI utk kedua tim ini. Diskualifikasi kah? Skorsing kah? Atau malah ada deal-deal berapa rupiah per gol nya? Hahaha PSSI, Federasi yg cukup konyol di negeri yg aneh ini. Akhirnya tanpa mengurangi rasa hormat, semoga beberapa kejadian di divisi utama tahun 2014 ini menjadi pembelajaran untuk semua pihak yg berkecimpung di dalam persepakbolaan tanah air agar menjadi lebih baik kedepannya. Maju Terus Sepak Bola Indonesia. Cayo!! :D

Selasa, 19 Agustus 2014

Berjuanglah Macan Tidar !!!

Degradasi?? Hmm.. Sesuatu yg paling menyakitkan dalam sepakbola. Tak ada seorang pun di dunia ini yg menginginkan timnya terdegradasi. Degradasi berarti turun kasta ke liga yg levelnya lebih rendah. Dan hal tersebut pasti sangat menyakitkan.
Seperti yg saya tulis beberapa bulan yg lalu, ketika liga akan dimulai, trauma akan kekalahan demi kekalahan masih sangat menghantui saya dan mungkin teman-teman lain sesama supporter PPSM. Entah feeling atau memang trauma, perasaan bahwa tim ini akan tetatih-tatih ternyata memang benar adanya.
Sebenarnya tim ini mengawali liga dengan baik. Menahan tim favorit juara Persis Solo di kandangnya yg 'angker' merupakan prestasi yg tak semua tim di grup ini bisa lakukan. Lalu menghempaskan persitema temanggung dan sempat bertengger di papan atas klasemen, hmm.. Sesuatu yg membanggakan.
Akan tetapi permasalahan muncul ditengah kompetisi. Gaji terlambat, tak pedulinya manajemen, saling menyalahkan antar pihak, membuat tim ini terpontang-panting tak jelas.
Kekalahan demi kekalahan kami dapatkan. Isu akan mogoknya pemain pun tak sekali terangkat ke media. Beberapa kali pemain mengancam mogok main karena gaji yg tak kunjung dibayarkan.
Setelah menghempaskan Persip Pekalongan 5-1 dan bertengger di peringkat tiga klasemen, tim ini kembali terseok-seok dan harus berjuang lolos dari degradasi di pertandingan terkahir melawan tim favorit juara yg pernah kami tahan di awal liga lalu, yap!! Persis Solo.
Jika melihat statistik pertemuan kami dengan Persis Solo, tak begitu jelek. Kami bahkan pernah melumat tim ini 5-0 beberapa tahun yg lalu. Kami juga pernah menyingkirkan Persis Solo di ajang Piala Indonesia dua tahun yg lalu. Dan yg terakhir kami menahan imbang 2-2 di pembukaan liga kemarin.
Akan tetapi keadaan sekarang memang sepertinya mustahil bisa menang melawan tim berjuluk Sambernyawa tersebut. Logika sederhananya, "Bagaimana bisa kami mengalahkan tim pemuncak klasemen dengan materi pemain bagus, iklim tim yg sejuk, dan dengan ribuan supporter sangat fanatik? Sedangkan kami hanya tim medioker yg berusaha lolos degradasi dengan iklim tim yg tak kondusif??" Rasa-rasanya mustahil bisa memenangkan laga penentuan tersebut. Tapi ini sepakbola, ada semangat disitu. Ada keyakinan dan ada kepercayaan yg dalam kepada tim yg selalu kami puja-puja tersebut.
Jika pun kami menang, tak lantas langsung lolos dari degradasi begitu saja. Mari kita lihat klasemen sementara, Kami berada di posisi 7 dengan poin 14. Diatasnya ada Persip Pekalongan juga dengan poin 14 (menang selisih gol). Di peringkat 5 ada Persipur Purwodadi dengan Poin 15, dan diatasnya ada Persiku Kudus dengan Poin 16. Jikapun kami menang, minimal harus ada salah satu tim yg saya tulis diatas kalah, entah itu Persiku, Persipur, ataupun Persip. Jika melihat lawan yg akan dihadapi ketiga tim tersebut Persip Pekalongan lah yg paling beruntung. Mereka akan melawan Persitema yg sudah memastikan degradasi di kandangnya, Stadion Kota Batik. Adapun Persipur akan menjamu tim kuat PSIS Semarang dan Persiku bakal bertandang Ke rivalnya, PSIR Rembang. Harapan itu masih ada jika PSIR mampu menghempaskan Persiku atau Persipur takluk di tangan Mahesa Jenar, PSIS.
Lepas dari itu semua, yg terpenting adalah tim kebanggaan kami, PPSM Magelang mampu mengalahkan Persis Solo Sabtu mendatang sambil berharap Persip, Persipur, atau Persiku kalah.
Iya.. Beginilah sepakbola.. Tak hanya berjuang untuk menjadi sang juara.
Berjuanglah Macan Tidar!!!

Minggu, 20 Juli 2014

Surat Terbuka Untuk Jajaran Manajemen PPSM Magelang, DPRD Kota Magelang, dan Wali Kota Magelang

Assalamu'alaikum wr wb..
 

Bapak-bapak yg saya hormati. Perkenalkan nama saya Fatih hanif, saya seorang suporter PPSM Magelang. Saya adalah salah satu dari ribuan orang yg mencintai tim sepak bola PPSM Magelang.
Bapak-bapak yang saya hormati, telah kita ketahui bersama bahwasanya tim kebanggaan warga Magelang ini sedang dalam keadaan yg memprihatinkan. Kondisi finansial tim di ujung tanduk. Tim ini terancam tidak bisa menyelesaikan kompetisi divisi utama tahun 2014 ini atau dengan kata lain 'Bubar' (mundur dari kompetisi).
Bapak-bapak yg saya hormati, jika itu sampai terjadi, tim yg selama ini menjadi kebanggaan kami, tim yg selalu kami puja-puji, tim yg selalu kami dampingi di setiap pertandingannya akan terdegradasi ke divisi satu. Akan sangat berat mengangkat tim ini kembali naik, mengingat persaingan akan semakin ketat pada musim-musim berikutnya.
Bapak-bapak yg saya hormati, jika itu sampai terjadi, impian kami seluruh warga magelang utk melihat tim sepakbola daerah kami masuk ke kasta tertinggi akan sirna.
Bapak-bapak yg saya hormati, selama ini kami telah mendedikasikan hidup kami untuk PPSM Magelang. Terkesan berlebihan, tp memang begitu adanya. Kami tinggalkan urusan duniawi ketika tim akan berlaga. Kami persiapkan segalanya demi nama baik Kota Magelang di masyarakat luar. Kami bawa simbol-simbol Magelang ke kota-kota lain. Bagi kami, PPSM Magelang adalah harga diri kami, harga diri Kota Magelang.
Bapak-bapak manajemen PPSM yg saya hormati, saya tahu usaha bapak-bapak utk menyelamatkan tim ini luar biasa hebatnya. Saya percaya berbagai cara sudah bapak-bapak lakukan. Saya dan teman-teman lain mempercayai kepengurusan bapak-bapak sedari awal membentuk kerangka tim ini. Berada di posisi tiga besar menjadi bukti keseriusan bapak-bapak utk menjadikan PPSM Magelang tim yg lebih baik.
Akan tetapi bapak-bapak yg saya hormati, kami sangat kaget mendengar kabar bahwa kondisi tim yg bapak-bapak kelola ini berada di ujung tanduk. Tak adanya transparansi membuat kami tak tahu-menahu tentang finansial tim. Mulai dari perekrutan pemain-pelatih, pemasukan tim, dan lain-lain. Kami sangat terkejut saat membaca di surat kabar bahwasanya gaji pemain telat dibayarkan dan terancam tak bisa melanjutkan kompetisi. Kami tak menyalahkan bapak-bapak manajemen. Hanya saja kami sedikit kecewa mendengar kabar tersebut.
Kami paham di era sekarang ini, pemasukan paling utama adalah dari tiket pertandingan (penonton). Sedangkan kita ketahui bersama, stadion tak seramai yg kita harapkan bersama.
Bapak-bapak manajemen yg saya hormati, minimnya publikasi utk PPSM Magelang kepada masyarakat umum adalah salah satu faktor penyebab sepinya stadion. Disisi lain, kami juga merasa bersalah karena tak cukup mampu membuat stadion kembali ramai seperti dulu.
Bapak-bapak manajemen yg saya hormati, perlu diketahui bahwasanya PPSM Magelang adalah salah satu kebanggaan warga Magelang, dan kebanggaan ini berasal dari hati. Banyak sekali hati yg tersakiti mendengar kabar yg menyakitkan ini. Kami berharap agar bapak-bapak manajemen segera membenahi tim ini dan mengembalikan PPSM ke jalurnya. Saya dan teman-teman supporter baik itu Simo Lodro, Magelang Fans ataupun Squadra Macan Tidar selalu siap menyuport, tentunya dgn kapasitas kami sebagai suppporter.
Bapak-bapak manajemen PPSM yg saya hormati, sesungguhnya bisa mengelola tim ini adalah suatu amanah besar dari seluruh warga Magelang. Saya percaya bapak-bapak manajemen adalah orang-orang yg amanah.
Bapak-bapak manajemen yg saya hormati, telah banyak yg kami (supporter) korbankan utk tim kebanggaan warga magelang ini. Berapa rupiah telah kami keluarkan agar bisa mendampingi di setiap PPSM berlaga, berapa janji yg telah kami ingkari agar kami dapat berdiri disamping PPSM saat berlaga, berapa kali kami tinggalkan sekolah, kuliah, dan pekerjaan agar kami bisa memberikan dukungan langsung kepada tim yg kita banggakan bersama ini. Tapi itu semua tak menjadikan kami menyesal, karena bagi kami kebanggaan tetaplah kebanggaan, dan sudah menjadi kewajiban kami utk mendukung tim ini bagaimanapun caranya.
Bapak-bapak manajemen yg saya hormati, kami tidak menuntut banyak dari bapak-bapak. Kami para supporter hanya minta keseriusan bapak-bapak sekalian utk mengelola/mengurus tim kebanggaan warga Magelang ini dengan baik. Kami ingin mimpi-mimpi kami terwujud tentang tim ini. Kiranya bapak-bapak manajemen mampu mengemban tugas yg mulia ini.

Kepada Bapak-bapak DPRD Kota Magelang, bapak-bapak adalah wakil kami di daerah ini. Suara rakyat Kota Magelang adalah suara bapak-bapak. Kegelisahan tentang nasib PPSM Magelang belakangan ini selalu menghantui kami. Tak adanya kejelasan inilah yg membuat kami tak tahu harus berbuat apa. Saling menyalahkan antar pihak tak membuat kami puas akan nasib tim kebanggaan warga Magelang ini.
Bapak-bapak DPRD Kota Magelang yg saya hormati, sekiranya suara kami didengar oleh jajaran DPRD Kota Magelang ini, kami sangat berharap bapak-bapak mampu membatu kami untuk menyuarakan agar PPSM Magelang keluar dari masa kritisnya.

Kepada Bapak Walikota yg saya hormati, sebelumnya saya berterima kasih karena Bapak telah menyempatkan membaca surat ini.
Bapak Walikota yg saya hormati, keresahan saya dan teman-teman supporter terhadap nasib tim kebanggaan warga Magelang ini sudah mencapi puncaknya. Tak ada kejelasan mengenai nasib tim ini kedepannya inilah yg membuat kami gelisah, tak tenang, dan sebagainya.
Saya sangat menyayangkan dan menyesalkan apabila tim ini tak bisa melanjutkan kompetisi divisi utama 2014 ini. Prestasi PPSM Magelang saat ini telah mengalami peningkatan yg signifikan. Berada di posisi tiga besar adalah suatu peningkatan yg luar biasa. Akan sangat menyakitkan apabila kita harus terdegradasi ke divisi satu karena tak dapat melanjutkan kompetisi musim ini.
Bapak Walikota yg saya hormati, PPSM Magelang adalah salah satu ikon penting bagi kota magelang. Ia (PPSM) membawa nama baik Magelang ke seluruh pelosok negeri ini. Baik atau buruknya prestasi PPSM berbanding lurus dengan ekspektasi publik seluruh masyarakat Indonesia mengenai Kota yg bapak pimpin ini.
Bapak Walikota yg saya hormati, PPSM Magelang merupakan satu dari sejuta bunga yg ada di Magelang. Kami tentunya tak mau ada salah satu bunga yg layu menghiasi kota tercinta ini.
Bapak Walikota yg saya hormati, saya tak bisa membayangkan apabila Kota Magelang tanpa PPSM. Disaat warga kota-kota lain membanggakan tim sepakbola daerahnya, apa yg bisa kami banggakan? Apa yg bisa kami jawab apabila kami ditanya mengenai tim sepakbola di Kota Magelang ini?
Bapak Walikota yg saya hormati, tentunya Bapak jg tak mau bila Kota Magelang menjadi bahan ejekan dan hinaan warga lain hanya karena tim sepakbolanya hancur berantakan.
Bapak Walikota yg saya hormati, apa yg saya bisa lakukan kecuali mencurahkan isi hati saya terhadap Bapak. Saya hanya warga biasa yg mempunyai cita-cita besar terhadap tim sepakbola di Magelang ini (PPSM).
Bapak Walikota yg saya hormati, sudah saatnya bapak turun tangan menyelesaikan permasalahan ini, saya dan teman-teman lain sangat berharap dengan tandan dingin bapak, tim bisa kembali normal dan akan berprestasi.
Bapak Walikota yg saya hormati, besar harapan saya terhadap Bapak agar PPSM Magelang bisa terselamatkan.

Terima kasih kepada Bapak/Ibu dan teman-teman semua karena telah menyempatkan membaca surat ini. Surat ini hanyalah ungkapan hati seorang supporter yg gelisah akan nasib tim kebanggaannya. 

Semoga dengan surat ini dapat sedikit membantu tentang kejelasan nasib tim kebanggaan kita bersama. Akhir kata, mohon maaf apabila kurang berkenan di hati Bapak/Ibu atau teman-teman semuanya.
 

Wassalamu'alaikum Wr Wb..


                                                                                                           Magelang, 20 Juli 2014

                                                                                                                        Hormat Saya, 
                                                                                                                        Fatih Hanif

Jumat, 04 Juli 2014

Aku dan Kalian :)


Biar bagaimanapun saya tetaplah Squadra Macan Tidar. Dari awal saya memang sangat cinta dengan kelompok ini. Kelompok yg didirikan oleh kami sendiri, Ultras 1919 saat terlibat konflik dengan kelompok lain di kota ini beberapa tahun yg lalu. Didirikan dengan cinta, darah, semangat, serta keyakinan. Kami memang disatukan krn beberapa kesamaan. Tak terhitung berapa lembar kertas jika perjalanan ini di tuliskan.
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak permasalahan-permasalahan yg muncul. Iya, orang bilang, semakin tinggi pohon berdiri semakin kencang angin menerpanya. Pepatah tersebut berlaku juga utk kelompok kami. Banyak daun-daun yg berguguran karena angin tersebut, namun disisi lain tak sedikit jg daun-daun baru yg tumbuh di pohon ini. Sepakbola memang begitu.
Entah bagaimana caranya saya bertahan di keluarga ini. Saya bisa bertahan diatas angin kencang yg menerpa. Tak banyak perubahan dari saya. Hanya saja suara ini lebih lantang dari sebelumnya dan kaki ini lebih jauh melangkah dari sebelumnya. Kecintaan saya terhadap tim yg kami banggakan lebih besar daripada sekedar permasalahan-permasalahan kecil. Pernah suatu ketika mempunyai pikiran utk meninggalkan kelompok ini. Pernah saya merasa lelah, pernah.
Akan tetapi, cinta yg sangat mendalam ke PPSM lah yg membuat saya bertahan.
Semangat ini akan tetap sama sampai kapanpun. Iya, akan tetap sama seperti saat suatu malam di rumah capotifo ketika saat itu sepakat membentuk kelompok ini. Warisan ini akan saya jaga seperti janji saya saat bersama-sama mendirikan kelompok ini.
Saya tak peduli orang lain datang dan pergi. Saya tak peduli atas apapun yg orang bilang tentang saya. Yang saya tau, bagaimana caranya bisa hadir di setiap PPSM berlaga serta mewujudkan semua mimpi dan cita-cita kami dahulu. Selama capotifo kami masih memegang megaphone, saya akan tetap berdiri dan bernyanyi dibawahnya. Selama mata ini masih bisa untuk melihat, saya akan tetap bangga melihat tubuh ini mengenakan jaket atau pakaian identitas kelompok yg menyatukan kami semua dalam sebuah keluarga, SQUADRA MACAN TIDAR!!!

Our Capotifo

Halo.. Selamat Sore, di sore yang cerah ini (cie cerah) sambil menunggu buka puasa saya tiba-tiba ingin menulis tentang sosok capotifoso kita, Radja. Sori saya bukan mau menulis tentang biografi hidupnya, ra dibayar kok haha. Disini saya akan sedikit bercerita tentang sosok yg sebentar lagi akan mengakhiri masa lajangnya ini

Yap, seorang yg saya kenal dgn nama Raja, seorang yg humoris, idealis, dan jg fantastis. Haha.
Kenapa saya blg fantastis? Krn dengan kehumorisan dan keidealismenya, ia mampu membangun komunitas kecil pendukung PPSM Magelang.
Ok, sekitar 5-6 tahun yg lalu didirikan kelompok supporter yg mempunyai 'ideologi Ultras' di Magelang. Ultras Gemilang, kelompok ini dibentuk untuk menampung orang-orang yg mencintai tim sepakbola PPSM Magelang secara berlebih. #FYI aja sih, sangat susah membangun kelompok 'Ultras' (minoritas) di kota ini, sosok raja sebagai salah satu pilar utama ultras berhasil mempertahankan kelompok ini hingga sekarang.
Ia bak nabi yg menyebarkan agama Alloh di jazirah arab. Maaf-maaf bukan nabi, tp walisongo iya ia seperti wali songo yg mengajarkan ajaran-ajaran Islam ke seluruh penjuru pulau jawa
Ia menyebarkan ideologi ultras ke pelosok2 Magelang. Hal itu bisa dilihat dari anggota ultras yg mayoritas berasal dari pelosok kota ini.
Sosok raja berhasil mengubah mindset supporter sepakbola yg anarkis, brutal, mabuk-mabukan, tawuran, tak punya aturan, dll. Ia selalu menekankan bahwa tim adalah segalanya, lebih dari sekedar kebanggaan, lebih dari sekedar harga diri, atau apalah saya juga gk dong haha. Tp yg jelas ia selalu menempatkan tim di posisi tertinggi. Hal itulah yg kemudian ditularkan ke semua teman-temannya.
Ia selalu kita jadikan panutan, krn tua kali ya haha. Di dalam stadion ia lepaskan hal-hal duniawi, only for PPSM. Itulah kenapa kami percaya ia memimpin kami di tribun.
Buat saya, ia adalah pemimpin yg hebat. Pernah suatu ketika kami pergi ke pertandingan away, kondisi perut sudah sangat lapar dan ia mencarikan makanan utk kami, gk ngerti gmn caranya, balik2 makanan telah ia bawa Atau saat away ke Kediri, di dalam stadion kami mendapat makanan dari entah saya lupa haha. Tp yg jelas ia memastikan teman2nya makan duluan, klo sudah semua ia baru makan Haha so sweet yaa.. Tak usah mengeluh lapar padanya, ia akan tau bahwa kalian lapar dan ia tak akan membiarkannya. Trust!!
Ia selalu menekankan konsep kekeluargaan di dalam tubuh komunitas ini. Semua permasalahan di dalam komunitas selalu diselesaikan secara kekeluargaan. Sik2 ini kok malah kayak kasus hukum, wis mbuh pokoke ngono kui haha.
Manifesto Ultras pun selalu ia ajarkan ke umatnya haha, tentang bagaimana attitude di stadion, bagaimana cara menghormati kawan yg lbh tua, bagaimana cara 'ngemong' kawan yg lebih muda, dll.
Sosok raja yg idealis tak jarang terlibat perbedaan pendapat dengan kawan-kawannya. Ok, saya sering berbeda pandangan dgn dia, tp ntah kenapa semua bisa clear kembali. Persahabatan buat kita ini tetap nomer satu, klo presiden sih ya nomer dua kan? hihihi.
Sebentar lagi sang capo ini akan mengakhiri masa lajangnya, cie kawin. Beruntunglah engkau perempuan yg mendapatkan seorang yg mungkin rela mati untukmu.
Bagi waktumu sebaik mungkin kawan, untuk Tuhanmu, untuk keluarga kecilmu nanti, untuk semua kawan2mu diluar sana, dan untuk anak-anak muda ini yg masih sangat membutuhkan sosok sepertimu.



Hormat kami untukmu, sang capotifo!!

Sabtu, 15 Maret 2014

Melihat (Supporter PPSM) Dari Sudut Pandang yang Berbeda

Jika semua (kelompok atau individu) saling menjatuhkan satu sama lain, maka stadion tak akan seramai dulu. Yang dibutuhkan tim saat ini adalah dukungan nyata dari semua pihak. Saling menjatuhkan satu sama lain secara otomatis akan membuat tim menjadi lemah.
Harusnya setiap kelompok maupun individu sama-sama berjuang untuk membuat stadion kembali ramai. Dua tahun terakhir persepakbolaan di kota tercinta ini sangat memprihatinkan. Setelah era Ferdinand Sinaga dan Rizki tim ini selalu finish di papan bawah klasemen. Saya kira telah menjadikan bukti bahwa sepak bola Magelang berada di ujung tanduk. Hal tersebut di tambah lagi dengan pengelolaan supporter yg masih berantakan. 
Simo Lodro yg menjadi garda terdepan supporter PPSM masih di tunggangi kepentingan-kepentingan di luar wilayah supporter, Squadra Macan Tidar yg menjadi harapan belum bisa
membuat kondisi ini membaik. Munculnya kelompok baru yg menamakan dirinya Magelang Fans seolah menjadi jawaban atas semua pertanyaan ini, akan tetapi hal tersebut malah membuat situasi semakin memanas di kalangan supporter. Seperti yg saya tulis diatas, praktek saling menjatuhkan satu sama lain yg menjadi salah satu faktor utama stadion tampak sepi.
Sangat disayangkan, kondisi tersebut sangatlah mempengaruhi tim. Keributan sesama supporter, stadion sepi, tak ada dukungan maksimal, dan akhirnya tim menjadi bulan-bulanan lawan. Disaat kota-kota lain berbenah untuk memperbaiki sepak bola di kotanya (supporter), di kota ini masih berkutat dengan urusan-urusan yg menurut saya tak ada gunanya. "Terus solusinya apa dong mas?" Sebenarnya ada banyak jalan utk memperbaiki persepakbolaan di Magelang ini. Ok, karena kita supporter, kita bicara hanya dalam lingkup supporter. Wilayah kita hanya ada di tribun, orang bilang "sebatas pagar tribun". Itu memang benar, urusan kita hanya mendukung dan mengkritisi tim. Bukan ikut campur di dalamnya. Masih banyak di kota ini para supporter yg ingin masuk jauh lebih dalam di luar batas sebagai seorang supporter. Dan hal2 semacam itulah yg menyebabkan tak stabilnya iklim manajemen tim dgn supporter.
Di kota ini pandangan menjadi supporter masih sangat dangkal. Mulai dari kesadaran utk membeli tiket, apalagi utk bicara tentang kreasi. Hanya ada beberapa saja yg memikirkan ttg kreasi ini, dan itupun tak didukung secara nyata oleh pihak2 lain yg bersangkutan.
Yang saya amati, di Magelang menjadi supporter akan pensiun jika sudah berumah tangga atau sudah mempunyai anak. Walaupun ada juga beberapa orang yg mempunyai cara pandang lain bahwa supporter tak akan pernah pensiun hingga tim yg ia bela benar2 mati atau bahkan dirinya sendiri yg mati. Memang tak bisa dipungkiri, akan sedikit merepotkan jika harus membagi waktu antara supporter dan keluarga. Tp itu semua kembali lagi ke per individu masing2. Jika benar2 menjadi supporter adalah jalan hidupnya, saya kira mslh ini akan teratasi. Mungkin hanya porsinya saja yg berkurang. Tp yg perlu digaris bawahi adalah kata pensiun. Tak pernah ada supporter pensiun, melainkan porsi yg berkurang. Dan itu pasti terjadi utk setiap supporter. Bukan hanya masalah keluarga, masalah pekerjaan yg terikat, sekolah dsb tak jauh berbeda.
Memang susah membangun rasa cinta ke tim sepak bola lokal. Maraknya sepakbola eropa di kalangan anak muda menjadi faktor utama. Banyaknya komunitas-komunitas supporter sepak bola eropa membuktikan bahwa rasa nasionalisme yg masih kurang di kalangan anak muda. Secara tak sadar kita telah dijajah oleh soft power yg mereka (bangsa eropa) punya. Mereka tak sadar dengan mengelu-elukan tim2 eropa secara tak langsung mereka membunuh persepakbolaan lokal. Konsepnya hampir sama seperti kapitalisme. Bayangkan jika semua anak muda di kota ini berbondong2 meninggalkan tim eropa yg mereka elu2kan tsb dan mencoba untuk mencintai tim lokal daerahnya, saya kira dalam jangka waktu lima tahunan PPSM akan menjadi kekuatan besar di Indonesia. "Lalu gimana cara menyadarkannya mas?" Semua kembali pada diri kita masing2, tentunya dgn bantuan semua pihak. Mulai dari manajemen tim yg memikirkan hal2 yg demikian ini ataupun yg lainnya.
Sebenarnya jika kita pelajari lbh dalam lagi ada banyak faktor penyebab bobroknya persepakbolaan di magelang ini. Mulai dari gesekan antar wilayah, geng, sekolah hingga cara pandang politik yg merambah ke ranah supporter.
Seperti yg telah saya tulis di awal td, Simolodro sbg garda terdepan telah benar2 gagal utk mengelola hal2 tersebut. Adanya kepentingan2 terselubung membuat garda depan ini hancur dgn sendirinya. Lain simolodro lain Squadra Macan Tidar. Kelompok supporter yg dulunya bernama ultras 1919 ini terasa berat untuk membenahi keadaan ini. Jika kita flash back lagi ada kelompok supporter muncul yg bernama D'blur. Akan tetapi kehadiran kelompok tsb ditolak oleh kelompok lain yg menjadikannya harus vakum hingga skrg. Permasalahan yg tampak disini adalah rasa hormat antar sesama kelompok yg msh kurang. Itulah yg menyebabkan seringnya chaos yg terjadi antar supporter PPSM. Saling menjatuhkan satu sama lain itulah yg menjadi salah satu faktor yg ikut berperan besar dalam bobroknya persepakbolaan di Magelang ini.
Dalam prakteknya di lapangan, hendaknya semua kelompok ini seharusnya bersama-sama menghormati satu sama lain. Jika memang eksistensi menjadi tujuan, seharusnya bisa disalurkan dgn cara2 yg positif. Kreasi2 ditribun hrs lbh ditingkatkan, datang di setiap pertandingan ntah home atau away dan msh banyak lg tentunya.
Sangat miris melihat keadaan ini, disaat kelompok supporter di kota lain telah menunjukkan kreativitasnya sbg bentuk dukungan terhadap timnya, di kota ini masih saja berkutat di hal2 yg tak berguna. Menurunnya performa tim sehingga menjadikan stadion sepi adalah pekerjaan rumah utk semua pihak, baik itu manajemen tim ataupun supporter.
Oleh karena itu marilah bersama-sama kita mendukung tim lokal kebanggaan warga Magelang ini sesuai porsi kita sbg supporter. Memahami makna supporter sesungguhnya dan mempraktekannya di tribun. Saya percaya, masih banyak orang2 yg peduli dgn tim ini. Dengan demikian tribun akan kembali penuh dan otomatis pemasukan tim akan bertambah lalu akan ada banyak sponsor yg masuk ke tim ini, dan akhirnya tim pun akan semakin kuat. Begitulah kira2 logika sederhananya. hormat saya untuk teman-teman supporter PPSM Magelang dimanapun berada #respect 
  Kini stadion tak seramai dulu, suara berisik supporter tak lagi terdengar. Saling menjatuhkan satu sama lain telah membuat keadaan menjadi seperti ini. Akibatnya performa tim menurun.
Yang dibutuhkan tim saat ini adalah dukungan nyata dari semua pihak.

Jumat, 21 Februari 2014

Life #2

Dalam tulisan sebelum ini telah di deskripsikan hidup seorang supporter sepak bola. Lalu muncul sebuah pertanyaan bagaimana bisa kami hadir di setiap pertandingan tim kebanggaan berlaga. Hal ini berkaitan dengan uang dan waktu. Adalah tidak masuk akal mengeluarkan puluhan ribu hingga ratusan ribu hanya untuk mendukung tim sepak bola.
Jadwal yg padat membuat kami harus pintar-pintar memutar otak agar bisa membagi antara tiket pertandingan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Pernah suatu ketika saya benar-benar tak memiliki cukup uang hanya utk membeli tiket laga kandang tim. Hari itu merupakan pertandingan penting manakala tim kebanggaan kami akan bertanding melawan tim sepak bola dari daerah pesisir pantai. Benar-benar tak pegang uang, sepeser pun tak ada. Akan sangat menyesal sekali apabila tak bisa menghadiri pertandingan tersebut dikarenakan faktor uang. "Laga kandang, dan aku tak ada Uang!! Shiiit!!" ucapku saat itu. Cara terakhir agar aku bisa mendapatkan uang hanyalah dengan menjual sepatu, jaket, atau pakaian yg aku sayangi. Ah biarlah, ini semua demi tim.
Cara seperti sudah lumrah dikalangan kami. Jual barang kesayangan hingga gadai-menggadai sering kami lakukan hanya untuk bisa mendukung tim kebanggaan kami berlaga. Jadwal pertandingan yg saling berdekatan itu memaksa kami agar memutar otak untuk mencari uang. Belum lagi jika pertandingan away. Pernah suatu ketika dalam satu minggu kami 2 kali manjalani laga away. Kami hanya tersenyum manakala melihat jadwal tersebut. Asal cukup utk transportasi dan tiket masuk stadion, kami tak masalah. Masalah perut kami kesampingkan dulu. Kami percaya Tuhan mempunyai banyak makanan utk kami makan jika kami merasa lapar. Sering kami berbagi makanan, rokok, dan minuman yg kami bawa dari rumah masing-masing. Belum lagi jika supporter lawan memberi sedikit makanan saat bertamu di kotanya. Kami merasa kami adalah keluarga. Keluarga yg disatukan oleh sepak bola. Sepak bola benar-benar mengajarkan kita kebersamaan. Dalam pemikiran orang normal, itu semua adalah sebuah kebodohan. Tak masuk akal bila dipikirkan, dengan penghasilan yg pas-pasan seperti itu kami mengeluarkan uang yg tak sedikit di setiap pertandingannya. Tp itulah yg terjadi, itulah hidup kami. Ini bukan tentang kepuasan, ini tentang emosi jiwa.
Selain uang, waktu adalah permasalahan yg cukup rumit di kalangan supporter sepak bola seperti kami. Waktu yg tak bisa di ajak kompromi tersebut yg membuat kami harus benar-benar berpikir keras. Tak terhitung berapa kali kami bolos sekolah, kuliah, atau kerja hanya agar bisa datang di tribun dan bernyanyi mendukung tim yg kami banggakan tersebut. Tak masuk akal. Tp inilah cinta dan kebanggaan, kata orang diluar batas logika.

Life #1

Supporter sepak bola, pekerjaan apa ini? Pekerjaan semacam apa yg tiap minggu menghabiskan puluhan ribu, bahkan hingga ratusan ribu rupiah seperti ini. Tentu ini hal yg bodoh dan konyol.
Saat tim kebanggaan kami berlaga rasanya seperti merayakan hari raya. Perasaan tak sabar selalu muncul beberapa hari sebelum hari pertandingan, ingin rasanya cepat menginjak tribun tempat kami berdiri mendukung tim kebanggaan kami tersebut. Orang bilang PMS (Pre-Match Syndrome), Sindrom dimana perasaan campur-aduk muncul ketika menunggu tim kebanggaan berlaga. Ada semangat disitu, saat menginjak tribun dimana biasa kami tempati rasanya seperti tak ada lagi pikiran selain berdiri dan bernyanyi mendukung tim berlaga. Ini bukan hanya sekedar berteriak GOL saat tim mencentak gol, atau sekedar umpatan saat pemain kami dikasari pemain lawan. Ini tentang emosi, kebanggaan, dan harga diri. Ada perasaan cinta yg sangat dalam yg tak pernah kami bisa ceritakan kepada orang lain. Mungkit konyol, tp itulah kenyataannya. Saat orang-orang pada umumnya mengumpulkan uang untuk berbelanja di mall atau bingung membagi waktu untuk berlibur, kami disini menghabiskan uang hanya utk datang di setiap pertandingan tim kebanggaan kami, kami membagi waktu agar selalu bisa hadir di setiap pertandingannya. Ini bukan sekedar hobi atau kesengangan kami, Ini hidup kami! Kami membawa nama kota ini dengan penuh rasa bangga, berjalan bermil-mil melintasi beberapa kota dan beberapa stadion. Entah berapa kilometer kami berjalan, yg jelas kami berusaha selalu ada saat tim kebanggaan kami berlaga.
Disaat orang lain mencaci sepak bola negeri ini, kami tak peduli! Kami dianggap kampungan, mendukung tim medioker kasta kedua Liga Indonesia disaat sepak bola eropa menjadi tren masa kini, kami tak peduli. Kami hanyalah orang-orang bodoh yg sangat mencintai tim daerah kami, daerah kalian juga. Kami orang-orang bodoh yg percaya dan mempunyai keyakinan bahwa sepak bola negeri ini akan terbang tinggi mengalahkan tim-tim eropa kalian, iya.