Jumat, 21 Februari 2014

Life #2

Dalam tulisan sebelum ini telah di deskripsikan hidup seorang supporter sepak bola. Lalu muncul sebuah pertanyaan bagaimana bisa kami hadir di setiap pertandingan tim kebanggaan berlaga. Hal ini berkaitan dengan uang dan waktu. Adalah tidak masuk akal mengeluarkan puluhan ribu hingga ratusan ribu hanya untuk mendukung tim sepak bola.
Jadwal yg padat membuat kami harus pintar-pintar memutar otak agar bisa membagi antara tiket pertandingan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Pernah suatu ketika saya benar-benar tak memiliki cukup uang hanya utk membeli tiket laga kandang tim. Hari itu merupakan pertandingan penting manakala tim kebanggaan kami akan bertanding melawan tim sepak bola dari daerah pesisir pantai. Benar-benar tak pegang uang, sepeser pun tak ada. Akan sangat menyesal sekali apabila tak bisa menghadiri pertandingan tersebut dikarenakan faktor uang. "Laga kandang, dan aku tak ada Uang!! Shiiit!!" ucapku saat itu. Cara terakhir agar aku bisa mendapatkan uang hanyalah dengan menjual sepatu, jaket, atau pakaian yg aku sayangi. Ah biarlah, ini semua demi tim.
Cara seperti sudah lumrah dikalangan kami. Jual barang kesayangan hingga gadai-menggadai sering kami lakukan hanya untuk bisa mendukung tim kebanggaan kami berlaga. Jadwal pertandingan yg saling berdekatan itu memaksa kami agar memutar otak untuk mencari uang. Belum lagi jika pertandingan away. Pernah suatu ketika dalam satu minggu kami 2 kali manjalani laga away. Kami hanya tersenyum manakala melihat jadwal tersebut. Asal cukup utk transportasi dan tiket masuk stadion, kami tak masalah. Masalah perut kami kesampingkan dulu. Kami percaya Tuhan mempunyai banyak makanan utk kami makan jika kami merasa lapar. Sering kami berbagi makanan, rokok, dan minuman yg kami bawa dari rumah masing-masing. Belum lagi jika supporter lawan memberi sedikit makanan saat bertamu di kotanya. Kami merasa kami adalah keluarga. Keluarga yg disatukan oleh sepak bola. Sepak bola benar-benar mengajarkan kita kebersamaan. Dalam pemikiran orang normal, itu semua adalah sebuah kebodohan. Tak masuk akal bila dipikirkan, dengan penghasilan yg pas-pasan seperti itu kami mengeluarkan uang yg tak sedikit di setiap pertandingannya. Tp itulah yg terjadi, itulah hidup kami. Ini bukan tentang kepuasan, ini tentang emosi jiwa.
Selain uang, waktu adalah permasalahan yg cukup rumit di kalangan supporter sepak bola seperti kami. Waktu yg tak bisa di ajak kompromi tersebut yg membuat kami harus benar-benar berpikir keras. Tak terhitung berapa kali kami bolos sekolah, kuliah, atau kerja hanya agar bisa datang di tribun dan bernyanyi mendukung tim yg kami banggakan tersebut. Tak masuk akal. Tp inilah cinta dan kebanggaan, kata orang diluar batas logika.

Life #1

Supporter sepak bola, pekerjaan apa ini? Pekerjaan semacam apa yg tiap minggu menghabiskan puluhan ribu, bahkan hingga ratusan ribu rupiah seperti ini. Tentu ini hal yg bodoh dan konyol.
Saat tim kebanggaan kami berlaga rasanya seperti merayakan hari raya. Perasaan tak sabar selalu muncul beberapa hari sebelum hari pertandingan, ingin rasanya cepat menginjak tribun tempat kami berdiri mendukung tim kebanggaan kami tersebut. Orang bilang PMS (Pre-Match Syndrome), Sindrom dimana perasaan campur-aduk muncul ketika menunggu tim kebanggaan berlaga. Ada semangat disitu, saat menginjak tribun dimana biasa kami tempati rasanya seperti tak ada lagi pikiran selain berdiri dan bernyanyi mendukung tim berlaga. Ini bukan hanya sekedar berteriak GOL saat tim mencentak gol, atau sekedar umpatan saat pemain kami dikasari pemain lawan. Ini tentang emosi, kebanggaan, dan harga diri. Ada perasaan cinta yg sangat dalam yg tak pernah kami bisa ceritakan kepada orang lain. Mungkit konyol, tp itulah kenyataannya. Saat orang-orang pada umumnya mengumpulkan uang untuk berbelanja di mall atau bingung membagi waktu untuk berlibur, kami disini menghabiskan uang hanya utk datang di setiap pertandingan tim kebanggaan kami, kami membagi waktu agar selalu bisa hadir di setiap pertandingannya. Ini bukan sekedar hobi atau kesengangan kami, Ini hidup kami! Kami membawa nama kota ini dengan penuh rasa bangga, berjalan bermil-mil melintasi beberapa kota dan beberapa stadion. Entah berapa kilometer kami berjalan, yg jelas kami berusaha selalu ada saat tim kebanggaan kami berlaga.
Disaat orang lain mencaci sepak bola negeri ini, kami tak peduli! Kami dianggap kampungan, mendukung tim medioker kasta kedua Liga Indonesia disaat sepak bola eropa menjadi tren masa kini, kami tak peduli. Kami hanyalah orang-orang bodoh yg sangat mencintai tim daerah kami, daerah kalian juga. Kami orang-orang bodoh yg percaya dan mempunyai keyakinan bahwa sepak bola negeri ini akan terbang tinggi mengalahkan tim-tim eropa kalian, iya.