Minggu, 28 November 2021

Cak...

Beberapa waktu yg lalu aku berkunjung ke Lembayung Merah, tempat tinggalnya di Jogja. Ia terlihat kurus dan terlihat beberapa uban di kumis tipisnya. Bekas luka yg ada di dahinya hanya samar terlihat, terganti dengan tanda hitam bekas sujudnya yg lebih ia panjangkan.

"Sehat to sampean cak? Kok maleh dadi ahli sunah ngene saiki? Hahaha." Tanyaku konyol.

"Lambemu tih!" Balasnya tetap dengan logat khas miliknya.

Tak ada obrolan apapun yg serius saat itu, tak ada obrolan mengenai penyakit yg ia rasakan juga. Kami hanya mengobrol santai tentang pekerjaan, kabar teman-teman seperjuagan tribun, serta kekonyolan-kekonyolan yg pernah kita lewati. 

"Jarene gowo anggur? Nek meh diombe rapopo tih, tak kancani. Rasah pekewuh"

"Ora ah cak, tak nggo sangu bali wae..." Ucapku yg telah mengurungkan niat dan benar-benar malu untuk mengajaknya barang segelas dua gelas.

Ya, dialah seorang yg aku kenal dengan nama Cak Nanang pada saat pertandingan away PPSM di Kediri tahun 2010. Dia adalah salah satu pilar supporter PPSM. Dalam perjalanannya, Cak Nanang membawa semangat Bonek yg ia tularkan pada teman-teman lainnya. Dia adalah panutan bagi kami, bagi ultras 1919 maupun Squadra Macan Tidar. "Gate 3, Tribun Ungu, Mia Curva Mia Cassa, Life for Rebel, passion ultras, itu semua adalah istilah dan semangat yg ia tunjukkan kala itu. 

Semangat Bonek yg ia bawa nyatanya mampu membuat loyalitas ultras 1919 dan SMT tetap terjaga. Masih teringat saat PPSM berada di titik paling bawah kala itu. Dualisme, degradasi, hingga bubar di tengah kompetisi yg membuat kami benar-benar merasa cukup, namun Cak Nanang selalu membakar api semangat agar tim ini diperjuangkan bersama. "Njuk sopo meneh nek ora awak dewe, tih, rel, yan, ja, dit, muh, yip lan kowe-kowe kabeh!" Ucapnya saat itu di basecamp kecil SMT.

Berbagai permasalahan-permasalahan yg kami keluhkan dapat ia selesaikan dengan bijaksana dan kepala dingin. Dia adalah seorang pemikir hebat. Pemikiran kami belum berada di level yg sama dengan seorang pernah menjadi guru sd ini. Tak jarang aku berbeda pemikiran dengannya, tak jarang juga aku sadar setelahnya jika tujuannya untuk kebaikan semua, seperti saat SMT dibawa olehnya ke tribun tengah milik Simolodro dan membuat koreo lambang PPSM dengan simolodro, saat terlibat cekcok di away kudus, saat aku membawa smt ke tribun vip, atau saat aku memblokir kontakknya karena menasihati masalah asmaraku yg konyol? Dia adalah seorang kakak yg benar-benar peduli kepada adik-adiknya.

Entah bagaimana, aku merasa tenang saat melihatnya di tribun dengan gaya casual yg selalu ia tampilakan dan kenalkan kepada kami kala itu. Sosok kakak yg pasti akan berada di garda terdepan jika ada masalah. Sosok kakak yg selalu menyisakan rokok pagi hari di basecamp. Sosok kakak yg selalu kami bully karena saat itu anaknya hafal semua lagu bcs.

Banyak kenangan yg kami ciptakan. Namun banyak juga impian yg belum kami wujudkan. Tak mengira jika pertemuan beberapa bulan lalu adalah pertemuan terakhirku dengannya. 2 jam lebih kami habiskan hanya untuk ngobrol hal-hal yg menciptakan tawa.

"Cak sampean ki jane bonek po smt to?"

"Yo nek Bonek ki dalan urip tih!"

"Ha nek smt cak?"

"Nek smt ki takdirku dadi wong Magelang!"

"Ha nek juve cak?"

"Ha nek juve ki merda, hahaha" 

Ah cak, tawa khas darimu pasti akan selalu kami rindukan cak. Sugeng tindak yo cak.. 

Lahumul fatihah, Nanang Wahyudi... 


Senin, 15 Agustus 2016

Arep Tekan Kapan Can Macan?

Sebuah judul artikel yg saya beri tanda tanya. Mau sampai kapan kita berjalan ditempat seperti ini? Untung saja kompetisi tahun ini tanpa degradasi. Saya salah satu supporter yg pesimis PPSM akan bertahan di kasta kedua sepakbola Indonesia jika tak segera dibenahi.

Lihat sekeliling kita, See... PSS yg akhir-akhir ini sering kita nyinyir dengan mantap mampu menjelma sebagai tim sepakbola yg diperhitungkan, PSIM dengan ambisinya berhasil membangkitkan kembali gairah sepakbola Kota Jogja, PSIS dengan semangat meraih kejayaan yg hilang perlahan mampu mendominasi Jawa Tengah.

Sedangkan PPSM?? Apa yg PPSM lakukan? Belum cukupkah dualisme tim yg terjadi beberapa tahun yg lalu? Belum cukupkah isu tim yg akan bubar karena masalah dana mencuat ke permukaan? Hey... kita mengalami penurunan drastis sejak promosi di kasta kedua ini. Hampir satu dekade kita mengarungi tiap musimnya dengan tertatih-tatih.

Sebenarnya apa yg salah disini? Cara mendukung supporter kah? Atau cara mengelola tim yg tidak profesional? Apa yg sebenarnya terjadi dalam tubuh PPSM? Apa sajakah yg perlu dibenahi di tim kebanggaan warga Magelang ini? Ahh... kenapa supporter yg selalu menjadi korban. Belum cukupkah perjuangan supporter selama ini? Tak bisakah kita bersorak sejenak saja atas kejayaan PPSM?

Oke cukup. Saya kurangi tanda tanya dalam artikel ini. Sebenarnya isi artikel ini adalah bentuk protes dan curahan hati seorang supporter biasa yg hanya bisa bernyanyi di atas tribun stadion. Sebagai seorang supporter PPSM, kita kembali berbicara tentang kesetiaan, tentang perjuangan, atau tentang kegelisahan. Belum pernah rasanya saya bermimpi tim kebanggaan yg saya dukung ini menjadi juara. Sejujurnya saya takut bermimpi sejauh itu, lha wong tiap musimnya aja pasti dibuat deg-degan kok. Jangan muluk-muluk dulu deh... PR yg harus dikerjakan bersama-sama adalah membangkitkan kembali gairah sepakbola di Magelang.

Dalam tulisan saya sebelum, sebelum, dan sebelumnya pun saya tulis popularitas tim ini menurun drastis. Oke, sekarang mengalami peningkatan. Namun peningkatan itu sangat kecil. Kita bukan berbicara tentang ciu atau arak yg dituangkan tipis-tipis, kita berbicara tentang tim sepakbola. 3000 orang belum cukup untuk mendongkrak tim yg syarat akan sejarah ini. (3000 saya ambil dari rata-rata penonton tahun ini yen ra luput).

Jika popularitas yg menjadi PR utama, kenapa pengurus PPSM seakan pasrah dengan keadaan? Lebih tepatnya pasrah dan sambat bab duit, hmm. Ibarat wong dagang, mau laku gimana orang promosi juga enggak. Tim ini selalu tanpa konsep yg jelas tiap musimnya. Lha gimana mau ada sponsor masuk wong tim aja ndak jelas mau gimana. Selama ini supporter lah yg menggetok tularkan ke masyarakat tentang PPSM.

Oke saya ambil contoh kecil saja musim ini. Manajemen mendatangkan kiper bintang Markus Horison, namun sayang seribu sayang manajemen tidak memanfaatkan pemain bintang itu sebagai nilai jual PPSM. Saya percaya kiper tua itu masih memiliki nilai jual yg tinggi. Mbok yo dibuatkan poster dengan background doi, atau buat video yg diunggah ke socmed dengan doi yg jd ikon. Sopo ngerti malah ono sponsor seng kepincut. Sebab markus itu bisa dijadikan ikon PPSM (sementara). Sebenarnya masih banyak lagi cara untuk mendongkrak popularitas tim ini, tapi mbuh kok koyone para pengurus ogah-ogahan.

Dalam tulisan ini saya bukan mau maido manajemen/pengurus, ini cuma ungkapan hati yg gelisah. Arep tekan kapan koyo ngene terus? Apa mau pindah homebase ke mbantul sisan seperti isu yg muncul ke permukaan kalo laga PPSM vs PSIM besok sabtu digelar di mbantul? Apaan.... hufh!

Sabtu, 02 April 2016

#MagelangDadiSiji (What This?)

#MagelangDadiSiji , hestek yang bertujuan untuk menjadikan satu beberapa kelompok supporter PPSM Magelang. Buat para supporter PPSM Magelang, tentunya kalian sudah tak asing dengan hestek tersebut, terlebih hal ini dikampanyekan dalam acara anniversary PPSM ke-97 beberapa waktu yang lalu. Sebelum kita masuk lebih dalam untuk memaknainya, mari kita bahas dulu latar belakang hestek #MagelangDadiSiji itu sendiri.

Oke baiklah... sebelumnya perlu diketahui juga, tulisan ini adalah pandangan pribadi. Bukan mewakili kelompok supporter tertentu ataupun golongan tertentu.

#MagelangDadiSiji muncul di permukaan saat acara anniversary PPSM ke-97 beberapa waktu yang lalu. Hal tersebut terjadi karena kegelisahan beberapa supporter PPSM terhadap menjamurnya kelompok supporter PPSM itu sendiri.

Pada mulanya, hestek #MagelangDadiSiji merupakan nama dari sebuah forum yang lahir untuk acara anniversary PPSM. Forum yang beranggotakan perwakilan dari beberapa kelompok supporter ini bertujuan untuk mensukseskan kegiatan acara anniversary PPSM. Sebuah terobosan atau gagasan yang brilian mengingat tak adanya pertandingan sepakbola sekaligus untuk menjaga kekompakan supporter PPSM.

Seiring dengan berjalannya waktu, forum yang bertujuan untuk mensukseskan acara anniversary PPSM tersebut, bergeser menjadi sebuah komitmen untuk menjadikan satu kelompok supporter yang ada. Lalu muncul lah hestek #MagelangDadiSiji itu.

Sebenarnya kampanye untuk menjadikan satu beberapa kelompok supporter tersebut telah dikampanyekan jauh-jauh hari sebelumnya, namun pada prakteknya kampanye tersebut selalu menemui jalan buntu. Entah apa penyebabnya namun kenyataannya selalu begitu.

Jika kita lihat secara objektif, tak ada yang salah dengan penggabungan ini. Bahkan akan nampak lebih kompak dan tertata. Terlebih dengan selesainya pembangunan tribun selatan Stadion Moch Soebroto. Rencananya tribun tersebut akan dijadikan rumah baru oleh beberapa kelompok supporter ini. Namun akan berbeda jika kita melihat dari sudut pandang sebagai supporter.

Gagasan atau hestek #MagelangDadiSiji ini tentunya menimbulkan pro dan kontra di kalangan supporter. Ada yang setuju dengan gagasan tersebut namun tak sedikit juga yang menolaknya. Hal ini sangat lumrah karena isu ini sangat sensitif.

Adanya isu sensitif ini membuat saya sebagai PemudaTribun ingin menyampaikan pandangan saya pribadi. Memang tak bisa dipungkiri banyak manfaat dari gagasan penyatuan ini. Mulai dari lebih tertatanya supporter hingga didelok wangun.

Jika kita tinjau satu per satu ideologi kelompok supporter PPSM ini tentu sangat bertolak belakang. Squadra Macan Tidar dengan ultras-nya, Magelang Boys, East Progo dengan style casual-nya tentunya akan terjadi masalah baru kedepannya jika rencana penggabungan ini direalisasikan. Belum lagi jika ditambah dengan , MSH ataupun MR. Chiu dengan cara pandang supporter konvesional. Masalah pertama akan muncul siapa pemimpinnya, lalu dalam praktek di lapangannya akan terjadi konflik terkait chants atau lagu. Mendirikan beberapa istana dalam satu kerajaan adalah suatu tindakan yang berisiko.

Terlepas dari masalah itu, semua kelompok supporter ini mempunyai history masing-masing yang akan dijadikan bahan pertimbangannya untuk menyikapi gagasan ini. 

Dalam sudut pandang saya sebagai PemudaTribun, #MagelangDadiSiji bisa dilakukan dengan baik melalui proses alami, bukan dengan keterpaksaan kondisi ataupun tekanan kondisi. Adanya ambisi akan menjadi boomerang untuk kita sendiri, Trust me!

Sebenarnya forum supporter demikian positif. Terlebih tujuannya untuk kebaikan PPSM. Namun jika ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan lainnya, forum semacam ini akan beralih fungsi dan menjadi kontroversial.

Saya bukan menolak rencana penggabungan ini, saya sebagai supporter PPSM mendukung langkah yang terbaik. Mendukung dalam artian bukan berarti komitmen dengan gagasan ini. Terlebih saya bagian dari keluarga Squadra Macan Tidar (SMT) yang mempunyai pandangan terhadap gagasan ini. Biar bagaimanapun saya tetap akan komitmen dengan komunitas dimana saya bernaung untuk mendukung PPSM Magelang, SMT.

Terlepas dari itu semua, saya kira selama ini kita telah dadi siji. Dadi siji satu stadion, dadi siji mengawal tim bertanding, dadi siji menjaga nama baik panji-panji PPSM Magelang. Bukan begitu? :) #forzaPPSM #Ale

Kamis, 31 Maret 2016

Heh PPSM !!!

"Heh PPSM!!" Sebuah seruan untuk tim kebanggaan warga Magelang. Koe ki piye karepe? Arep sido melu kompetisi ora je? Ini juga termasuk seruan untuk tim kebanggaan kita.

Hari ini 1April 2016, dan kami para supporter belum mendapatkan informasi apa-apa tentang perkembangan PPSM Magelang yg 'jarene' akan mengikuti kompetisi ISC B 2016. Sebuah kompetisi yang digagas PT. Liga untuk mengisi kekosongan kompetisi akibat konflik PSSI pada akhir bulan mendatang.

Perkembangan terakhir yang kami dapat hanyalah kabar keikutsertaan manajemen PPSM dalam rapat sosialisasi kompetisi ISC tersebut. Selebihnya mungkin hanyalah gosip yg beredar di media cetak bahwa manajemen sedang mencari pelatih yg akan menahkodai tim yg baru saja merayakan ulang tahun ke-97 ini.

Pertanyaan simple yang muncul dalam otak ini adalah, "Sakjane kepiye to PPSM ki?" Benar, sakjane kepie to iki? Niat bal-balan ora je? Apakah ada konflik? Ada kendala apa hingga sampai saat ini belum melakukan persiapan yang matang?

Ah... Saya masih ingat ucapan Ibu Wakil Walikota dalam sambutannya di acara Anniversary PPSM beberapa waktu lalu. "Pemerintah siap mendukung kemajuan PPSM Magelang! Ucap Ibu Wakil Walikota. Namun dalam prakteknya belum ada tindak lanjut dari ucapannya tersebut

Oke baiklah, kita kesampingkan dulu perkataan Ibu Wakil Walikota ini. Lalu sekarang ada masalah apakah dalam internal manajemen PPSM itu sendiri?

Isu yang mencuat dari dulu hingga sekarang bahwa terdapat benalu dalam manajemen PPSM yang membuat manajemen seakan ogah-ogahan mengelola tim ini secara profesional. Padahal telah diketahui siapa benalu tersebut.

Yap... Jika alasan utamanya hanyalah itu, kenapa seperti sulit sekali menyelesaikannya. Sekuat apa sih si benalu ini?? Apa memang tak bisa dibasmi? Kenapa seakan dia malah menjadi kambing hitam dari semua masalah ini?

Dalam sudut pandang penulis (cie penulis) sebagai supporter PPSM Magelang, Jadi apa yang diinginkan manajemen PPSM?? Mau membiarkan benalu itu tetap hidup dan berkembang biak atau membasminya hingga sampai keakar-akarnya?

Jika kalian melimpahkan itu pada supporter, lalu kami bisa apa? Nggerudug omahe si benalu tersebut? Jadi apa yg bisa kami lakukan? Plis jawab!! :( Bukankah selama ini kami juga sudah memerangi benalu itu? Harus ditekan seperti apa lagi?

Dalam kenyataanya, kalian malah seakan mengkambing hitamkannya dan seolah tidak peduli dengan keadaan tim ini. Padahal efek dari ketidak pedulian berimbas ke segalanya. Terkait sponsor dan popularitas tim.

Jika ini dibiarkan, maka tak lama lagi PPSM akan tinggal kenangan. Bahkan gejalanya sudah terlihat dari beberapa tahun yang lalu. Iyo ra Pak?

Ini memang sebuah kritikan dan curahan hati untuk manajemen yang entah siapa itu, kami tak mau lagi menjadi korban atas semua ini. Wis cukup Pak, para supporter yang setia ini juga ingin diberikan kado yang manis atas kesuksesan PPSM.

Jika kalian mengeluhkan soal dana, Ah itu masalah klasik. Ok begini... Sekarang mau ada investor, sponsor, ataupun penyandang dana mana yang mau jika kepengurusan tim aja tidak jelas. Ketidakjelasan inilah yang membuat PPSM selalu berada di ujung tanduk. Dan sampai sekarang saya sebagai supporter belum bisa melihat perbaikan dari ketidakjelasan ini.

Lalu bagaimana Pak??

Selasa, 29 Maret 2016

Manajemen PPSM (Who??)

Halo gaes... Enaknya ngomongin apa? Emmm, cinta? Ah kasian kalian yg jomblo. Gimana kalo bola lokal aja? Liganya mau mulai nih (yen ra luput).
Tapi btw, kayaknya bakal rame kalo bahas balbalan di Magelang atau mungkin derby Magelang. Huwallah... Derby Magelang mah apa atuh?!? lha wong cuma ada satu tim yg hebat kok di Magelang, xixixi. Daripada ngomongin derby Magelang atau apalah itu, mending kita ngomongin gimana caranya memajukan Tim Kebanggaan warga Magelang ini, PPSM lho ya bukan mejiKUHIbimiu itu.
Ngomongin kemajuan PPSM sih kayaknya bukan rahasia lagi deh kalo popularitas PPSM saat ini emang lagi turun drastis di masyarakat Magelang. Entah siapa yg salah, namun terlihat jelas kacaunya manajemen tim di tiga tahun terakhir ini sedikit banyak turut menjadi faktor anjloknya popularitas tim ini. Jika dilihat dari prestasi, sebenernya tim ini mengalami peningkatan lho. Dua tahun lalu berhasil menembus Semifinal Piala Indonesia, serta musim lalu yg berhasil finish lima besar di Divisi Utama. Akan tetapi semua itu ternyata belum cukup untuk mendongkrak popularitas tim sepak bola yg bulan ini berusia 97 tahun. Lha terus gimana mas? (Haembuh!!) Haha.
Oke, jadi begini... Jika saya simpulkan sih ada beberapa faktor yg mempengaruhi permasalahan ini. Sebenernya buanyak sih jika dijabarkan, tapi nanti pada gontok-gontokan sendiri malah gawat, hehe. Untuk itu mungkin sedikit aja deh aku bahas dimari. Harus diakui bahwa saling menjatuhkan antar kelompok supporter PPSM sendiri lah menjadi faktor pertamanya. Praktek-praktek semacam ini yg secara tak sadar turut serta mengurangi antusias ataupun respect terhadap PPSM sendiri. Tentu ada pertanyaan, "Kenapa bisa begitu?" Nah, antara lain kurangnya rasa menghormati perbedaan pendapat (pandangan) atau bisa juga dengan menjadi sok jagoan di dalam stadion. Hal-hal semacam itulah yg menyebabkan praktek-praktek seperti itu bisa terjadi.
Berikutnya adalah, Emm... Ya tentu saja amburadulnya manajemen tim!! Simpel aja sih mikirnya, entah kenapa manajemen PPSM dua tahun belakangan ini sangat minim pengetahuan tentang pemasaran tim. Saya tak menyebutkan bodoh lho ya... tapi memang harus diakui bahwa strategi mereka untuk mendongkrak popularitas tim ini kelewat e'emnya. Saya analogikan seperti ini, kita ibaratkan PPSM ini adalah barang. Nah gimana bisa laku tuh barang kalo promosi aja enggak?!? Sama seperti PPSM, bagaimana stadion bisa penuh jika mempromosikan tim ke khalayak umum aja gk pernah?!? Padahal mereka juga tau kalo popularitas tim ini memang sedang merosot tajam. Boro-boro deh website, akun official di FB atau Twitter aja gk punya. Haduuuh, parah kan? Emang!
Lalu selama ini gimana dong? Ya kita-kita ini yg mempunyai inisiatif membuat akun-akun anonim ataupun Unofficial sebagai sumber informasi untuk teman-teman supporter lain. Eh tapi ini perasaan kok malah ngeritik abis-abisan sih... Tapi itu memang kenyataan kok, dan hingga akhirnya masalah klasik timbul. Dana, WTF!! Hmmm.
Tapi tenang, kayaknya sih manajemen untuk musim ini serius untuk membuat sang Macan meraung-raung dan menerkam semua musuhnya (yen ra luput, hahaha). Kelompok-kelompok supporter yg ada pun kini kayaknya telah sadar bahwa perbedaan itu adalah sesuatu yg wajar. Ya ya.. Semoga saja mimpi untuk melihat PPSM Magelang berjaya dapat terwujud. Alee!!!
Kita lihat aja deh perkembangan kedepannya seperti apa. #forzaPPSM

Senandung Sang Diva (Karaoke)

Diva baru saja pulang ketika adzan shubuh mulai berkumandang. Badanya lemas, ia berjalan dengan langkah gontai menuju kamar kosnya. Sisa alkohol yang ia tenggak beberapa jam yang lalu masih ia rasakan. Tanpa cuci muka dan ganti pakaian, Diva langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Ia pun tertidur pulas ditemani suara ayam yang berkokok di luar sana.
Ketika senja datang, Diva telah sibuk merias wajahnya secantik mungkin. Ia harus kembali ke kehidupan malamnya yang keras. Tak peduli sedang dalam suasana hati yang seperti apa, yang jelas Diva harus tetap menampakkan muka ramah dengan senyuman yang menggoda agar para pengunjung karaoke mau meng-handle dirinya untuk ber-having fun. Malam itu Diva berpenampilan sangat seksi, dengan setelan sex dress hitamnya yang menantang, Diva berhasil mendapatkan tamu pertamanya. Bagi Diva, inilah kehidupan yang harus dijalani setiap harinya. Bernyanyi sampai pagi, bergoyang seksi, bertingkah naughty, menenggak minuman beralkohol adalah hal yang biasa buat Sang Diva Karaoke.
“Selamat datang Mas…” Sapa Diva kepada beberapa lelaki yang memilihnya untuk menemani bernyanyi. “Silahkan masuk,” imbuh Diva dengan muka yang ramah mempersilahkan tamunya masuk ke room yang telah dipesan. Suasana di dalam room masih canggung, namun bukan Diva namanya jika tak mampu membuat suasana menjadi enjoy. Dengan lihainya Diva mampu menyalakan euforia di room itu. “Kita nyanyi lagu-lagu yang romantis dulu ya mas,” ucap Diva halus seraya memilih lagu di monitor. Sambil bernyanyi, ia menuangkan minuman beralkohol yang telah dipesan sang tamu. Dengan sebuah welcome drink, mereka pun larut dalam suasana. Bukan lagi lagu-lagu romantis yang dinyanyikannya kemudian, melainkan lagu-lagu party dengan irama yang berdetak kencang membuat malam semakin hidup. Diva pun tersenyum puas melihat sang tamu larut dalam suasana pesta di sebuah room karaoke.
Sepenggal cerita diatas mungkin juga dialami oleh perempuan lain di tempat yang sama. Salah satu tempat yang paling populer dalam kehidupan malam, Tempat Karaoke. Gaya hidup western dengan tingkat modernitas tinggi membuat tempat-tempat karaoke menjamur di setiap kota. Apa ada yang salah dengan tempat semacam ini? Tentu saja tergantung sudut pandang orang melihatnya. Dalam masyarakat umum, tempat karaoke telah terlanjur dicap sebagai tempat yang negatif. Begitu juga dengan yang bekerja di dalamnya, termasuk Sang Diva yang biasa kita kenal dengan sebutan LC (Ladies Companion). Pekerjaan sebagai LC dianggap sebagai pekerjaan kotor oleh masyarakat. Terkadang malah disejajarkan dengan PSK. Padahal yang sebenarnya seorang LC bukanlah PSK. Tugas seorang LC adalah menemani pengunjung bernyanyi di dalam room.
Dalam perspektif bisnis, kehadiran LC menjadi daya tarik tersendiri. Banyak lelaki yang berkunjung ke tempat karaoke hanya untuk bersenang-senang dengan ladies companion tersebut. Selain menawarkan kepuasan, kehadiran LC mampu membuat suasana room semakin panas. Maka dari itulah beberapa pemilik usaha karaoke, menyediakan Ladies Companion untuk para pengunjung yang didominasi oleh lelaki.
Terlepas dari stigma yang disandang, Ladies Companion adalah sebuah pekerjaan, dan mereka tetap ada di tengah-tengah realitas kehidupan sosial bermasyarakat. Baik buruk seorang LC tergantung dari sudut pandang kita melihat dan menilainya. Jika ditinjau lebih jauh lagi, seorang yang bekerja sebagai LC tentunya mempunyai alasan yang rasional. Saya pernah sedikit berbincang dengan beberapa LC kenalan saya, dan semuanya bermuara pada masalah ekonomi. Adanya tempat hiburan malam seperti karaoke seolah menjadi solusi di tengah meningkatnya kebutuhan kehidupan yang bersifat primer.
Tak mudah menyandang predikat sebagai LC, sering ia dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum, tak jarang juga ia dilecehkan saat bekerja. Namun itulah risiko dan konsekuensi sosial yang didapat sebagai Ladies Companion. Seorang LC tetaplah perempuan biasa yang membutuhkan kenyamanan ataupun keamanan, namun tuntutan pekerjaan yang harus membuat seorang LC menjadi tahan banting dan tangguh untuk menjalani pekerjaan dan kehidupannya. Di dalam hatinya terselip asa bahwa suatu hari nanti ia bisa menjalani kehidupan normal selayaknya perempuan. Pergi jalan-jalan ke mall bersama keluarga, menemukan lelaki yang mencintai tulus, menjadi ibu dari anak-anaknya.
Ah sudahlah.. Awan hitam telah menyelimuti langit dan hujan nampaknya akan segera tiba. Tetaplah bersyukur atas segala nikmatNya dan semoga saya bisa melanjutkan narasi diatas menjadi sebuah cerita. Be smart

Oh Awaydays

Bulan maret, bulannya PPSM. Tim sepakbola medioker yang kami dukung kandang maupun tandang. Bercerita tentang laga tandang, aku mempunyai cerita atau mungkin kenangan yg entah bagaimana aku ungkapkan.
Pagi itu cuaca sangat cerah, bahkan lebih cerah dari biasanya. Ahh.. Hari ini PPSM akan melakoni laga tandang di Purwodadi. Berbagai gosip telah menyebar jika pertandingan ini akan 'dijual' untuk mendanai tim yang hampir kolaps saat itu. Kelompok kami pun tak mengadakan awaydays resmi untuk menanggapi isu ini. Malam sebelum pertandingan, satu kawan menghubungi untuk menjalani awaydays. Ah.. Malas pikirku saat itu. Lalu selang beberapa saat kemudian, satu kawan lagi mengajak untuk menghadiri laga tandang ini. Hmmm.. Aku mulai memikirkan ajakan ini. Setelah berdiskusi dengan pacar (cie pacar), akhirnya pagi harinya aku putuskan untuk menjalani laga tandang kali ini.
Setelah mandi dan sarapan, kami semua berkumpul di salah satu rumah kawan yg mengajak away tsb. Kami memutuskan berangkat menggunakan sepeda motor. Perjalanan sejauh 120km kami lewati dengan berbagai halangan. Dari menghadapi jalanan yg rusak, panas matahari, hujan deras, ah.. Semua itu belum ada apa-apanya dibanding ban bocor di tengah hutan jati. Entah bagaimana dibawah cuaca yg teramat terik dan jalanan yg cukup parah di tengah-tengah hutan jati, ban sepeda motor yg dinaiki kawan mengalami kebocoran. Setelah mencari sekitar satu jam lebih akhirnya kami menemukan jg sebuah bengkel. Itu belum termasuk kembali ke sebuah warung untuk mengambil tas berisi banner yg tertinggal.
Setelah semua beres kamipun melanjutkan perjalanan. Belum sampai setengah am perjalanan, cuaca berubah seketika. Hujan deras pun menemani perjalanan kami. Tanpa jas hujan dan untuk memburu waktu kick off yg semakin mepet, kami nekat menerjang lebatnya air yg turun dari langit.
Dengan semangat yg membara, tibalah kami di perbatasan Kabupaten Grobogan. Semua rasa lelah seakan sirna ketika melihat beberapa rombongan sepeda motor mengenakan pakaian serba merah. Yaa.. Kami telah melihat para supporter Persipur Purwodadi menuju stadion yg entah dimana itu. Yang ada di pikiran kami berempat saat itu adalah stadion sudah dekat!! Namun ternyata ibarat di magelang, kami baru sampai di salam (perbatasan jogja-mgl). Butuh waktu sekitar sejam lagi untuk sampai di Purwodadi. Dan baru aku tahu juga bahwa Purwodadi adalah sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Grobogan. Jadi tim Persipur ini mewakili Kab Grobogan secara keseluruhan.
Setelah sekian lama akhirnya tibalah kami di Stadion Krida Bhakti Purwodadi. Tepat pukul 15.00 WIB kami memasuki area stadion tersebut. Stadion yg hampir menyerupai Std Abu Bakrin ini telah ramai didatangi supporter tuan rumah. Sebelum masuk ke dalam stadion, kami menyempatkan dulu mengisi perut kami yg mulai tak bersahabat. Dengan makanan seadanya, kamipun lahap menghabiskan nasi bungkus limaribuan yg kami beli di sekitar stadion. Setelah selesai makan kami masuk ke dalam stadion diantar oleh beberapa kordinator suporter tuan rumah. Hanya empat orang datang ke pertandingan away untuk menepati janji kami sebagai seorang ultra. Dengan bangga kami memasang bendera dengan warna kebanggaan merah kuning di pagar tribun utara stadion krida bhakti Purwodadi. Ah.. Berbagai sorak sorai sambutan kami dengar dari supporter tuan rumah. Kamipun membalas sambutan itu dengan tepukan tangan diatas pagar. Selang beberapa saat peluit tanda dimulainya pertandingan telah terdengar. Masih teringat jelas PPSM saat itu bermain penuh semangat. Isu soal jual-beli pertandingan nyatanya tak terbukti. Beberapa peluang emas belum berhasil dikonveksi menjadi gol. Bahkan hadiah penalti yg didapat tuan rumah berhasil digagalkan penjaga gawang PPSM saat itu. Namun dengan dikartu merahnya 2 pemain PPSM membuat alur pertandingan berubah seketika. Alhasil gol demi gol bersarang di gawang PPSM. Ahhh.. Sungguh menyakitkan! Nanti balas di Magelang, pikirku. Pertandingan pun akhirnya dimenangkan oleh tim tuan rumah. Sebelum masuk ke ruang ganti pemain, semua pemain menghampiri kami di tribun utara untuk meminta maaf dan memberikan penghormatan. Ahh.. Sangat mengharukan. Bahkan salah satu pemain terlihat meneteskan air matanya, what a momment!!
Setelah dirasa cukup pemain memasuki loker dan kamipun bersiap keluar dari stadion.
Masalah muncul saat kami beristirahat di sebuah warung kaki lima masih di sekitar stadion. Sebuah ejekan karena kami mengalami kekalahan terdengar. "Buugghhh" satu bogem mentah hinggap di salah satu suporter tuan rumah dan ia pun lari. Namun tak lama kemudian, segerombolan orang terlihat berlari menuju ke arah kami lengkap dengan lemparan batu-batunya. Tanpa pikir panjang, karena kalah jumlah dan tak ingin mati konyol di kota orang, kamipun langsung naik kendaraan yg kami parkir tak jauh dari situ. Aksi kejar-kejaran saat itu sangat menegangkan sekaligus mengasyikkan. Beruntung kami lolos dari pertarungan konyol 4 orang (1cewek) VS ratusan orang yg sudah lengkap dengan amunisinya. Entah berjalan ke arah mana tibalah kami di suatu tempat yg benar-benar asing. Aku tak begitu ingat itu di daerah bernama apa, yg jelas suatu daerah terpencil di tengah-tengah alas dan sungai. Jalanan di sana juga amat parah rusaknya. Tak ada penerangan jalan sama sekali dan hujan. Kami pun sempat terpisah sebelum akhirnya dipertemukan di salah satu rumah warga. Bahkan saat itu pacar saya pun sempat menangis karena takut di tempat yg terpencil ini bukan karena takut keributan tadi. Akhirnya kami pun ditampung di salah satu rumah warga yg aku sebutkan tadi karena dirasa tersesat. Setelah sedikit mengobrol kami dijemput oleh salah satu kerabat kawan yg tinggal di Kab Grobogan untuk singgah dirumahnya. Setelah singgah sebentar, kami pun memutuskan pulang malam itu juga. Perjalanan pulang kami lalui juga dengan kejadian aneh-aneh. Dari penampakan beberapa mahkluk astral hingga sengatan udara malam yang menusuk tulang.
Ahh... Memang benar kata orang, Pertandingan tandang memang menantang!! Selamat 97 Tahun Macan Tidar. Takkan lelah mendukungmu.