Minggu, 28 November 2021

Cak...

Beberapa waktu yg lalu aku berkunjung ke Lembayung Merah, tempat tinggalnya di Jogja. Ia terlihat kurus dan terlihat beberapa uban di kumis tipisnya. Bekas luka yg ada di dahinya hanya samar terlihat, terganti dengan tanda hitam bekas sujudnya yg lebih ia panjangkan.

"Sehat to sampean cak? Kok maleh dadi ahli sunah ngene saiki? Hahaha." Tanyaku konyol.

"Lambemu tih!" Balasnya tetap dengan logat khas miliknya.

Tak ada obrolan apapun yg serius saat itu, tak ada obrolan mengenai penyakit yg ia rasakan juga. Kami hanya mengobrol santai tentang pekerjaan, kabar teman-teman seperjuagan tribun, serta kekonyolan-kekonyolan yg pernah kita lewati. 

"Jarene gowo anggur? Nek meh diombe rapopo tih, tak kancani. Rasah pekewuh"

"Ora ah cak, tak nggo sangu bali wae..." Ucapku yg telah mengurungkan niat dan benar-benar malu untuk mengajaknya barang segelas dua gelas.

Ya, dialah seorang yg aku kenal dengan nama Cak Nanang pada saat pertandingan away PPSM di Kediri tahun 2010. Dia adalah salah satu pilar supporter PPSM. Dalam perjalanannya, Cak Nanang membawa semangat Bonek yg ia tularkan pada teman-teman lainnya. Dia adalah panutan bagi kami, bagi ultras 1919 maupun Squadra Macan Tidar. "Gate 3, Tribun Ungu, Mia Curva Mia Cassa, Life for Rebel, passion ultras, itu semua adalah istilah dan semangat yg ia tunjukkan kala itu. 

Semangat Bonek yg ia bawa nyatanya mampu membuat loyalitas ultras 1919 dan SMT tetap terjaga. Masih teringat saat PPSM berada di titik paling bawah kala itu. Dualisme, degradasi, hingga bubar di tengah kompetisi yg membuat kami benar-benar merasa cukup, namun Cak Nanang selalu membakar api semangat agar tim ini diperjuangkan bersama. "Njuk sopo meneh nek ora awak dewe, tih, rel, yan, ja, dit, muh, yip lan kowe-kowe kabeh!" Ucapnya saat itu di basecamp kecil SMT.

Berbagai permasalahan-permasalahan yg kami keluhkan dapat ia selesaikan dengan bijaksana dan kepala dingin. Dia adalah seorang pemikir hebat. Pemikiran kami belum berada di level yg sama dengan seorang pernah menjadi guru sd ini. Tak jarang aku berbeda pemikiran dengannya, tak jarang juga aku sadar setelahnya jika tujuannya untuk kebaikan semua, seperti saat SMT dibawa olehnya ke tribun tengah milik Simolodro dan membuat koreo lambang PPSM dengan simolodro, saat terlibat cekcok di away kudus, saat aku membawa smt ke tribun vip, atau saat aku memblokir kontakknya karena menasihati masalah asmaraku yg konyol? Dia adalah seorang kakak yg benar-benar peduli kepada adik-adiknya.

Entah bagaimana, aku merasa tenang saat melihatnya di tribun dengan gaya casual yg selalu ia tampilakan dan kenalkan kepada kami kala itu. Sosok kakak yg pasti akan berada di garda terdepan jika ada masalah. Sosok kakak yg selalu menyisakan rokok pagi hari di basecamp. Sosok kakak yg selalu kami bully karena saat itu anaknya hafal semua lagu bcs.

Banyak kenangan yg kami ciptakan. Namun banyak juga impian yg belum kami wujudkan. Tak mengira jika pertemuan beberapa bulan lalu adalah pertemuan terakhirku dengannya. 2 jam lebih kami habiskan hanya untuk ngobrol hal-hal yg menciptakan tawa.

"Cak sampean ki jane bonek po smt to?"

"Yo nek Bonek ki dalan urip tih!"

"Ha nek smt cak?"

"Nek smt ki takdirku dadi wong Magelang!"

"Ha nek juve cak?"

"Ha nek juve ki merda, hahaha" 

Ah cak, tawa khas darimu pasti akan selalu kami rindukan cak. Sugeng tindak yo cak.. 

Lahumul fatihah, Nanang Wahyudi...