Sabtu, 15 Maret 2014

Melihat (Supporter PPSM) Dari Sudut Pandang yang Berbeda

Jika semua (kelompok atau individu) saling menjatuhkan satu sama lain, maka stadion tak akan seramai dulu. Yang dibutuhkan tim saat ini adalah dukungan nyata dari semua pihak. Saling menjatuhkan satu sama lain secara otomatis akan membuat tim menjadi lemah.
Harusnya setiap kelompok maupun individu sama-sama berjuang untuk membuat stadion kembali ramai. Dua tahun terakhir persepakbolaan di kota tercinta ini sangat memprihatinkan. Setelah era Ferdinand Sinaga dan Rizki tim ini selalu finish di papan bawah klasemen. Saya kira telah menjadikan bukti bahwa sepak bola Magelang berada di ujung tanduk. Hal tersebut di tambah lagi dengan pengelolaan supporter yg masih berantakan. 
Simo Lodro yg menjadi garda terdepan supporter PPSM masih di tunggangi kepentingan-kepentingan di luar wilayah supporter, Squadra Macan Tidar yg menjadi harapan belum bisa
membuat kondisi ini membaik. Munculnya kelompok baru yg menamakan dirinya Magelang Fans seolah menjadi jawaban atas semua pertanyaan ini, akan tetapi hal tersebut malah membuat situasi semakin memanas di kalangan supporter. Seperti yg saya tulis diatas, praktek saling menjatuhkan satu sama lain yg menjadi salah satu faktor utama stadion tampak sepi.
Sangat disayangkan, kondisi tersebut sangatlah mempengaruhi tim. Keributan sesama supporter, stadion sepi, tak ada dukungan maksimal, dan akhirnya tim menjadi bulan-bulanan lawan. Disaat kota-kota lain berbenah untuk memperbaiki sepak bola di kotanya (supporter), di kota ini masih berkutat dengan urusan-urusan yg menurut saya tak ada gunanya. "Terus solusinya apa dong mas?" Sebenarnya ada banyak jalan utk memperbaiki persepakbolaan di Magelang ini. Ok, karena kita supporter, kita bicara hanya dalam lingkup supporter. Wilayah kita hanya ada di tribun, orang bilang "sebatas pagar tribun". Itu memang benar, urusan kita hanya mendukung dan mengkritisi tim. Bukan ikut campur di dalamnya. Masih banyak di kota ini para supporter yg ingin masuk jauh lebih dalam di luar batas sebagai seorang supporter. Dan hal2 semacam itulah yg menyebabkan tak stabilnya iklim manajemen tim dgn supporter.
Di kota ini pandangan menjadi supporter masih sangat dangkal. Mulai dari kesadaran utk membeli tiket, apalagi utk bicara tentang kreasi. Hanya ada beberapa saja yg memikirkan ttg kreasi ini, dan itupun tak didukung secara nyata oleh pihak2 lain yg bersangkutan.
Yang saya amati, di Magelang menjadi supporter akan pensiun jika sudah berumah tangga atau sudah mempunyai anak. Walaupun ada juga beberapa orang yg mempunyai cara pandang lain bahwa supporter tak akan pernah pensiun hingga tim yg ia bela benar2 mati atau bahkan dirinya sendiri yg mati. Memang tak bisa dipungkiri, akan sedikit merepotkan jika harus membagi waktu antara supporter dan keluarga. Tp itu semua kembali lagi ke per individu masing2. Jika benar2 menjadi supporter adalah jalan hidupnya, saya kira mslh ini akan teratasi. Mungkin hanya porsinya saja yg berkurang. Tp yg perlu digaris bawahi adalah kata pensiun. Tak pernah ada supporter pensiun, melainkan porsi yg berkurang. Dan itu pasti terjadi utk setiap supporter. Bukan hanya masalah keluarga, masalah pekerjaan yg terikat, sekolah dsb tak jauh berbeda.
Memang susah membangun rasa cinta ke tim sepak bola lokal. Maraknya sepakbola eropa di kalangan anak muda menjadi faktor utama. Banyaknya komunitas-komunitas supporter sepak bola eropa membuktikan bahwa rasa nasionalisme yg masih kurang di kalangan anak muda. Secara tak sadar kita telah dijajah oleh soft power yg mereka (bangsa eropa) punya. Mereka tak sadar dengan mengelu-elukan tim2 eropa secara tak langsung mereka membunuh persepakbolaan lokal. Konsepnya hampir sama seperti kapitalisme. Bayangkan jika semua anak muda di kota ini berbondong2 meninggalkan tim eropa yg mereka elu2kan tsb dan mencoba untuk mencintai tim lokal daerahnya, saya kira dalam jangka waktu lima tahunan PPSM akan menjadi kekuatan besar di Indonesia. "Lalu gimana cara menyadarkannya mas?" Semua kembali pada diri kita masing2, tentunya dgn bantuan semua pihak. Mulai dari manajemen tim yg memikirkan hal2 yg demikian ini ataupun yg lainnya.
Sebenarnya jika kita pelajari lbh dalam lagi ada banyak faktor penyebab bobroknya persepakbolaan di magelang ini. Mulai dari gesekan antar wilayah, geng, sekolah hingga cara pandang politik yg merambah ke ranah supporter.
Seperti yg telah saya tulis di awal td, Simolodro sbg garda terdepan telah benar2 gagal utk mengelola hal2 tersebut. Adanya kepentingan2 terselubung membuat garda depan ini hancur dgn sendirinya. Lain simolodro lain Squadra Macan Tidar. Kelompok supporter yg dulunya bernama ultras 1919 ini terasa berat untuk membenahi keadaan ini. Jika kita flash back lagi ada kelompok supporter muncul yg bernama D'blur. Akan tetapi kehadiran kelompok tsb ditolak oleh kelompok lain yg menjadikannya harus vakum hingga skrg. Permasalahan yg tampak disini adalah rasa hormat antar sesama kelompok yg msh kurang. Itulah yg menyebabkan seringnya chaos yg terjadi antar supporter PPSM. Saling menjatuhkan satu sama lain itulah yg menjadi salah satu faktor yg ikut berperan besar dalam bobroknya persepakbolaan di Magelang ini.
Dalam prakteknya di lapangan, hendaknya semua kelompok ini seharusnya bersama-sama menghormati satu sama lain. Jika memang eksistensi menjadi tujuan, seharusnya bisa disalurkan dgn cara2 yg positif. Kreasi2 ditribun hrs lbh ditingkatkan, datang di setiap pertandingan ntah home atau away dan msh banyak lg tentunya.
Sangat miris melihat keadaan ini, disaat kelompok supporter di kota lain telah menunjukkan kreativitasnya sbg bentuk dukungan terhadap timnya, di kota ini masih saja berkutat di hal2 yg tak berguna. Menurunnya performa tim sehingga menjadikan stadion sepi adalah pekerjaan rumah utk semua pihak, baik itu manajemen tim ataupun supporter.
Oleh karena itu marilah bersama-sama kita mendukung tim lokal kebanggaan warga Magelang ini sesuai porsi kita sbg supporter. Memahami makna supporter sesungguhnya dan mempraktekannya di tribun. Saya percaya, masih banyak orang2 yg peduli dgn tim ini. Dengan demikian tribun akan kembali penuh dan otomatis pemasukan tim akan bertambah lalu akan ada banyak sponsor yg masuk ke tim ini, dan akhirnya tim pun akan semakin kuat. Begitulah kira2 logika sederhananya. hormat saya untuk teman-teman supporter PPSM Magelang dimanapun berada #respect 
  Kini stadion tak seramai dulu, suara berisik supporter tak lagi terdengar. Saling menjatuhkan satu sama lain telah membuat keadaan menjadi seperti ini. Akibatnya performa tim menurun.
Yang dibutuhkan tim saat ini adalah dukungan nyata dari semua pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar