Selasa, 29 Maret 2016

Oh Awaydays

Bulan maret, bulannya PPSM. Tim sepakbola medioker yang kami dukung kandang maupun tandang. Bercerita tentang laga tandang, aku mempunyai cerita atau mungkin kenangan yg entah bagaimana aku ungkapkan.
Pagi itu cuaca sangat cerah, bahkan lebih cerah dari biasanya. Ahh.. Hari ini PPSM akan melakoni laga tandang di Purwodadi. Berbagai gosip telah menyebar jika pertandingan ini akan 'dijual' untuk mendanai tim yang hampir kolaps saat itu. Kelompok kami pun tak mengadakan awaydays resmi untuk menanggapi isu ini. Malam sebelum pertandingan, satu kawan menghubungi untuk menjalani awaydays. Ah.. Malas pikirku saat itu. Lalu selang beberapa saat kemudian, satu kawan lagi mengajak untuk menghadiri laga tandang ini. Hmmm.. Aku mulai memikirkan ajakan ini. Setelah berdiskusi dengan pacar (cie pacar), akhirnya pagi harinya aku putuskan untuk menjalani laga tandang kali ini.
Setelah mandi dan sarapan, kami semua berkumpul di salah satu rumah kawan yg mengajak away tsb. Kami memutuskan berangkat menggunakan sepeda motor. Perjalanan sejauh 120km kami lewati dengan berbagai halangan. Dari menghadapi jalanan yg rusak, panas matahari, hujan deras, ah.. Semua itu belum ada apa-apanya dibanding ban bocor di tengah hutan jati. Entah bagaimana dibawah cuaca yg teramat terik dan jalanan yg cukup parah di tengah-tengah hutan jati, ban sepeda motor yg dinaiki kawan mengalami kebocoran. Setelah mencari sekitar satu jam lebih akhirnya kami menemukan jg sebuah bengkel. Itu belum termasuk kembali ke sebuah warung untuk mengambil tas berisi banner yg tertinggal.
Setelah semua beres kamipun melanjutkan perjalanan. Belum sampai setengah am perjalanan, cuaca berubah seketika. Hujan deras pun menemani perjalanan kami. Tanpa jas hujan dan untuk memburu waktu kick off yg semakin mepet, kami nekat menerjang lebatnya air yg turun dari langit.
Dengan semangat yg membara, tibalah kami di perbatasan Kabupaten Grobogan. Semua rasa lelah seakan sirna ketika melihat beberapa rombongan sepeda motor mengenakan pakaian serba merah. Yaa.. Kami telah melihat para supporter Persipur Purwodadi menuju stadion yg entah dimana itu. Yang ada di pikiran kami berempat saat itu adalah stadion sudah dekat!! Namun ternyata ibarat di magelang, kami baru sampai di salam (perbatasan jogja-mgl). Butuh waktu sekitar sejam lagi untuk sampai di Purwodadi. Dan baru aku tahu juga bahwa Purwodadi adalah sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Grobogan. Jadi tim Persipur ini mewakili Kab Grobogan secara keseluruhan.
Setelah sekian lama akhirnya tibalah kami di Stadion Krida Bhakti Purwodadi. Tepat pukul 15.00 WIB kami memasuki area stadion tersebut. Stadion yg hampir menyerupai Std Abu Bakrin ini telah ramai didatangi supporter tuan rumah. Sebelum masuk ke dalam stadion, kami menyempatkan dulu mengisi perut kami yg mulai tak bersahabat. Dengan makanan seadanya, kamipun lahap menghabiskan nasi bungkus limaribuan yg kami beli di sekitar stadion. Setelah selesai makan kami masuk ke dalam stadion diantar oleh beberapa kordinator suporter tuan rumah. Hanya empat orang datang ke pertandingan away untuk menepati janji kami sebagai seorang ultra. Dengan bangga kami memasang bendera dengan warna kebanggaan merah kuning di pagar tribun utara stadion krida bhakti Purwodadi. Ah.. Berbagai sorak sorai sambutan kami dengar dari supporter tuan rumah. Kamipun membalas sambutan itu dengan tepukan tangan diatas pagar. Selang beberapa saat peluit tanda dimulainya pertandingan telah terdengar. Masih teringat jelas PPSM saat itu bermain penuh semangat. Isu soal jual-beli pertandingan nyatanya tak terbukti. Beberapa peluang emas belum berhasil dikonveksi menjadi gol. Bahkan hadiah penalti yg didapat tuan rumah berhasil digagalkan penjaga gawang PPSM saat itu. Namun dengan dikartu merahnya 2 pemain PPSM membuat alur pertandingan berubah seketika. Alhasil gol demi gol bersarang di gawang PPSM. Ahhh.. Sungguh menyakitkan! Nanti balas di Magelang, pikirku. Pertandingan pun akhirnya dimenangkan oleh tim tuan rumah. Sebelum masuk ke ruang ganti pemain, semua pemain menghampiri kami di tribun utara untuk meminta maaf dan memberikan penghormatan. Ahh.. Sangat mengharukan. Bahkan salah satu pemain terlihat meneteskan air matanya, what a momment!!
Setelah dirasa cukup pemain memasuki loker dan kamipun bersiap keluar dari stadion.
Masalah muncul saat kami beristirahat di sebuah warung kaki lima masih di sekitar stadion. Sebuah ejekan karena kami mengalami kekalahan terdengar. "Buugghhh" satu bogem mentah hinggap di salah satu suporter tuan rumah dan ia pun lari. Namun tak lama kemudian, segerombolan orang terlihat berlari menuju ke arah kami lengkap dengan lemparan batu-batunya. Tanpa pikir panjang, karena kalah jumlah dan tak ingin mati konyol di kota orang, kamipun langsung naik kendaraan yg kami parkir tak jauh dari situ. Aksi kejar-kejaran saat itu sangat menegangkan sekaligus mengasyikkan. Beruntung kami lolos dari pertarungan konyol 4 orang (1cewek) VS ratusan orang yg sudah lengkap dengan amunisinya. Entah berjalan ke arah mana tibalah kami di suatu tempat yg benar-benar asing. Aku tak begitu ingat itu di daerah bernama apa, yg jelas suatu daerah terpencil di tengah-tengah alas dan sungai. Jalanan di sana juga amat parah rusaknya. Tak ada penerangan jalan sama sekali dan hujan. Kami pun sempat terpisah sebelum akhirnya dipertemukan di salah satu rumah warga. Bahkan saat itu pacar saya pun sempat menangis karena takut di tempat yg terpencil ini bukan karena takut keributan tadi. Akhirnya kami pun ditampung di salah satu rumah warga yg aku sebutkan tadi karena dirasa tersesat. Setelah sedikit mengobrol kami dijemput oleh salah satu kerabat kawan yg tinggal di Kab Grobogan untuk singgah dirumahnya. Setelah singgah sebentar, kami pun memutuskan pulang malam itu juga. Perjalanan pulang kami lalui juga dengan kejadian aneh-aneh. Dari penampakan beberapa mahkluk astral hingga sengatan udara malam yang menusuk tulang.
Ahh... Memang benar kata orang, Pertandingan tandang memang menantang!! Selamat 97 Tahun Macan Tidar. Takkan lelah mendukungmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar