Untuk
sebagian orang, datang ke Stadion Abu Bakrin saat itu sangatlah anti.
Stadion jelek, tribun dari tanah, wah pokoknya anti kemapanan banget itu
stadion. Tapi buat aku bisa menghadiri laga PPSM yg berjuang di divisi
2a hingga ke divisi utama merupakan 'kesenangan' yg tak ternilai
harganya. Aneh memang jika bicara sepak bola lokal di kota yg
notabenenya bukan kota bola ini. Paradigma sepak bola
lokal itu jelek, supporternya urakan masih kental di kota ini. Hal itu
bisa dilihat dari kepadatan stadion bila dibandingkan dengan warga
Magelang sendiri.
Di tribun timur yg tua itu hanya berisikan para
pecinta2 bola yg benar2 tulus mendukung tim kebanggaannya. Aku lupa apa
nama suppoternya saat itu, ntah Simo Lodro atau Laskar Magelang ataupun
Magelang Mania aku tak ingat benar. Yg jelas dengan atribut warna oranye
semua berkumpul di tribun itu.
Seiring dengan kemajuan sepak bola
lokal dan promosinya PPSM ke Divisi utama, tribun tua itu pun tak mampu
lagi menampung penonton dan supporter yg semakin hari semakin bertambah.
Tribun tua itu akhirnya ditinggalkan, dan semua pindah berbondong2 ke
tribun tanah yg lumayan lebar di sebelah utara. Saat itu memang aku
sudah duduk di bangku SMA. Tadinya aku ingin ikut pindah, tapi aku
merasa tak nyaman jika harus berdesak2an dengan orang2 yg tiba2 mengaku
menjadi supporter ketika PPSM promosi ke divisi utama. Benar, orang2
lama yg dulu selalu setia mendukung dan menemani PPSM berlaga harus
kalah dan terpinggirkan oleh orang2 baru yg mendadak sok jagoan di
tribun 'baru' itu.
Ah sudahlah dengan orang2 itu, yg jelas aku tetap
setia utk tim yg aku banggakan ini. Hingga pada akhirnya aku ditemukan
dengan suatu kelompok kecil yg 'saat itu' benar2 loyal untuk tim. Yap
"Till Die" nama kelompok kecil yg beranggotakan mayoritas warga desa
sebelah dimana aku sering nongkrong di desa itu pula. Dan kami pun tetap
di tribun itu. Dan kelak di kelompok itu pun pertama kalinya aku
mengikuti laga tandang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar