Jumat, 20 September 2013

Coretan 'Di Tribun Itu #2'

Untuk sebagian orang, datang ke Stadion Abu Bakrin saat itu sangatlah anti. Stadion jelek, tribun dari tanah, wah pokoknya anti kemapanan banget itu stadion. Tapi buat aku bisa menghadiri laga PPSM yg berjuang di divisi 2a hingga ke divisi utama merupakan 'kesenangan' yg tak ternilai harganya. Aneh memang jika bicara sepak bola lokal di kota yg notabenenya bukan kota bola ini. Paradigma sepak bola lokal itu jelek, supporternya urakan masih kental di kota ini. Hal itu bisa dilihat dari kepadatan stadion bila dibandingkan dengan warga Magelang sendiri.
Di tribun timur yg tua itu hanya berisikan para pecinta2 bola yg benar2 tulus mendukung tim kebanggaannya. Aku lupa apa nama suppoternya saat itu, ntah Simo Lodro atau Laskar Magelang ataupun Magelang Mania aku tak ingat benar. Yg jelas dengan atribut warna oranye semua berkumpul di tribun itu.
Seiring dengan kemajuan sepak bola lokal dan promosinya PPSM ke Divisi utama, tribun tua itu pun tak mampu lagi menampung penonton dan supporter yg semakin hari semakin bertambah. Tribun tua itu akhirnya ditinggalkan, dan semua pindah berbondong2 ke tribun tanah yg lumayan lebar di sebelah utara. Saat itu memang aku sudah duduk di bangku SMA. Tadinya aku ingin ikut pindah, tapi aku merasa tak nyaman jika harus berdesak2an dengan orang2 yg tiba2 mengaku menjadi supporter ketika PPSM promosi ke divisi utama. Benar, orang2 lama yg dulu selalu setia mendukung dan menemani PPSM berlaga harus kalah dan terpinggirkan oleh orang2 baru yg mendadak sok jagoan di tribun 'baru' itu.
Ah sudahlah dengan orang2 itu, yg jelas aku tetap setia utk tim yg aku banggakan ini. Hingga pada akhirnya aku ditemukan dengan suatu kelompok kecil yg 'saat itu' benar2 loyal untuk tim. Yap "Till Die" nama kelompok kecil yg beranggotakan mayoritas warga desa sebelah dimana aku sering nongkrong di desa itu pula. Dan kami pun tetap di tribun itu. Dan kelak di kelompok itu pun pertama kalinya aku mengikuti laga tandang.
Mendadak banyak orang yang mengaku sebagai supporter tim kebanggaan kami, Akhirnya para pendahulu yang sudah berada di stadion saat tim masih tertatih-tatih harus terpinggirkan atas hadirnya orang-orang baru yang berdandan dan foto-foto mengenakan atribut supporter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar