Sebenarnya bukan urusan saya untuk mengomentari atau bahkan mengkritik organisasi supporter ini, mengingat saya juga bukan anggota organisasi tersebut. Tapi jika itu menyangkut PPSM Magelang, tim yg amat saya puja-puja itu, saya rasa ini akan mjd urusan saya juga.
Simo Lodro Magelang, telah kita ketahui bersama kelompok supporter PPSM Magelang ini merupakan kelompok supporter terbesar di daratan kedu. Tak heran jika banyak orang ingin 'ngopeni' kelompok supporter ini, maklum saja di dunia seperti bisa menjadi lahan basah untuk para pencari keuntungan. Mulai dari warga sipil, para elite, dan bahkan aparat keamanan. Tak jarang juga kelompok supporter ini dijadikan alat politik suatu parpol tertentu. Miris memang, tujuan utama supporter adalah mendukung tim kebanggaannya secara total bukan untuk alat kampanye atau bahkan untuk lahan mencari uang.
Dua musim lalu, sangatlah nampak bagaimana bobroknya kelompok supporter ini, memang tak ada peraturan yg tertulis mengenai keharusan tiap anggota datang ke tiap PPSM berlaga atau aturan tentang bagaimana seharusnya kita di tribun saat mendukung tim. Tapi jika dilihat dan ditelaah secara jernih, saat para supporter tawuran sendiri di tribun, menyanyikan lagu2 'rasis' saat mendukung tim, itu adalah indikasi2 bahwa roda2 organisasi ini tak berjalan sebagaimana mestinya.
Pengangkatan 'Pandawa Lima' dan penurunan sepihak dirijen aktif saat itupun memunculkan kontroversi2 di kalangan supporter. Tercium adanya kepentingan2 terselubung dan konspirasi yg ada di tubuh organisasi ini. Belum lagi soal kebocoran tiket pertandingan yg tercium adanya campur tangan para pengurus organisasi atau kelompok supporter ini. Atau bahkan lobi-lobi pengurus saat terjadi dualisme tim yg mengakibatkan terpecahnya pandangan para supporter. Akibatnya tribun sepi karena ada pengaruh dari 'pengurus' organisasi tersebut.
Ketidakpedulian pengurus tehadap kelompok ini makin menjadi. Setelah diberhentikannya dirijen aktif saat itu, kelompok ini nampak berantakan. Tak ada kreasi (saat supporter2 lain di Indonesia sangat kreatif), tribun dengan dirijen yg gonta-ganti, tawuran sesama supporter dsb.
Sebagai pengurus, seharusnya memberikan contoh yg baik kepada anak buahnya atau para anggotanya. Saya tak melihat satu presiden pun hadir saat pertandingan2 away ketika tim ini sedang terjatuh. Saya hanya melihat tindakan 'penganiayaan' para pengurus kelompok supporter ini terhadap kelompok lain sesama pendukung PPSM yakni Ultras PPSM satu tahun silam.
Jika ditelaah lebih jauh lagi, kelompok yg seharusnya bisa membuat perubahan yg baik ini, skrg hanya dimanfaatkan oleh para pengurus2 utk mencari keuntungan atau mungkin hanya untuk popularitas semata. Tak ada jiwa supporter yg tertanam. Kewajiban mendukung tim dengan tulus dan penuh cinta itu hanya isapan belaka.
Saya khawatir, jika diteruskan seperti ini maka kedepan persepakbolaan di kota ini pun akan ikut hancur pula.
Rasanya tak etis jika hanya mengkritisi saja, menurut saya ada beberapa options atai solusi utk permasalahan ini. Saya rasa masih banyak anggota2 simolodro yg berkompeten utk memperbaiki organisasi yg amburadul ini, terutama para pemuda-pemudi. Sudah cukup orang2 'tua' bermain. Sekarang waktunya anak2 muda yg berkarya. Masih banyak anak2 muda simo lodro yg peduli dengan kemajuan supporter di kota ini. Tentunya semua utk tim kebangaan kita semua. Jika para supporter atraktif dan kreatif otomatis tribun selalu penuh terisi dan otomatis sponsor akan masuk, kemudian tak akan ada lagi alasan tim kekurangan dana. Kuatkan dahulu supporter baru kita melangkah ke tim. Itu analogi sederhananya.
Terima kasih teman-teman atas waktunya membaca coretan sederhana ini. Sekali lagi, saya mengkritik karena saya peduli.
![]() |
| Penurunan sepihak dirijen aktif saat itupun menimbukan kontroversi dan berbagai pertanyaan di kalangan supporter. Tercium adanya kepentingan terselubung pengurus atas isu penurunan tersebut. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar